Belajar di Rumah sebagai Langkah Darurat Anak-Anak Lamongan Terdampak Banjir Bengawan Jero

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Luapan Bengawan Jero kembali membawa dampak serius bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Lamongan. Banjir yang melanda sejumlah wilayah menyebabkan aktivitas warga terganggu, termasuk kegiatan pendidikan anak-anak.

Beberapa desa di Kecamatan Karanggeneng, Kalitengah, Turi, Deket, Glagah, dan Karangbinangun menjadi daerah yang cukup parah terdampak. Dengan kondisi jalan-jalan utama dan akses menuju sekolah terendam air.

Dalam kondisi seperti ini, belajar di rumah menjadi pilihan yang paling rasional dan bertanggung jawab bagi anak-anak.
Keputusan tersebut bukan semata-mata soal kenyamanan, tetapi lebih pada aspek keselamatan jiwa.

Banyak jalan yang biasa dilalui siswa kini tertutup genangan air. Tidak hanya itu, batas antara badan jalan dengan kali di sisi kanan dan kiri jalan tidak lagi terlihat jelas. Situasi ini sangat rawan kecelakaan, tergelincir, tercebur ke sungai, atau musibah lain yang tidak diharapkan.

Anak-anak, terutama usia PAUD dan sekolah dasar, sangat rentan terhadap risiko tersebut. Memaksakan mereka berangkat ke sekolah dalam kondisi banjir bukanlah sikap bijak.

Pendidikan memang penting, namun keselamatan jauh lebih utama. Oleh karena itu, belajar di rumah sementara waktu hingga banjir surut adalah bentuk ikhtiar melindungi generasi muda dari bahaya.

Belajar di rumah bukan berarti menghentikan proses pendidikan. Orang tua, guru, dan sekolah dapat berkolaborasi agar anak-anak tetap mendapatkan pendampingan belajar, baik melalui tugas sederhana, lembar kerja, maupun arahan belajar mandiri yang disesuaikan dengan kondisi darurat.

Fleksibilitas dan empati sangat dibutuhkan dalam situasi ini. Mengingat tidak semua keluarga memiliki fasilitas pembelajaran daring yang memadai.

Selain aspek pendidikan, perhatian juga perlu diberikan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak sekolah. Dalam kondisi normal, MBG diberikan dalam bentuk makanan siap saji di sekolah. Namun, situasi banjir menuntut adanya penyesuaian kebijakan. Memberikan MBG dalam bentuk paket sembako dan lauk pauk dinilai lebih tepat dan efektif dalam kondisi darurat.

Perubahan bentuk bantuan ini memungkinkan makanan tetap sampai kepada anak-anak dan keluarganya meskipun sekolah tidak dapat beroperasi secara normal. Sembako dan lauk pauk dapat dimasak di rumah, disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing, serta lebih tahan disimpan. Selain itu, bantuan tersebut juga dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga yang terdampak banjir.

Kebijakan darurat semacam ini menunjukkan bahwa negara dan pemerintah daerah hadir dengan pendekatan yang manusiawi dan kontekstual. Pendidikan dan gizi anak tetap terjamin tanpa mengabaikan faktor keselamatan dan kondisi lapangan.

Pada akhirnya, belajar di rumah dan penyesuaian program MBG bukanlah kemunduran, melainkan bentuk kepedulian dan kebijaksanaan dalam menghadapi bencana. Hingga banjir benar-benar surut dan akses jalan kembali aman, keselamatan anak-anak Lamongan harus menjadi prioritas utama, sembari memastikan hak mereka atas pendidikan dan gizi tetap terpenuhi.

Penulis Fathurrahim Syuhadi