LAMONGAN lintasjatimnews – Memasuki awal tahun baru, masyarakat dihadapkan pada momentum penting untuk melakukan refleksi dan menyusun rencana masa depan. Dari perspektif sosiologi, pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan ruang sosial untuk meninjau kembali peran individu dalam kehidupan bermasyarakat serta arah kontribusi yang akan diberikan ke depan.
Sosiolog dan Dosen STIQSI Lamongan, Anis Ulfiyatin, S.Sos., M.Sosio., menegaskan bahwa awal tahun adalah fase evaluatif yang sarat makna sosial. Menurutnya, setiap individu tidak hidup dalam ruang hampa, melainkan selalu berkelindan dengan struktur sosial, nilai, dan kebutuhan masyarakat.
“Awal tahun baru adalah momen refleksi kolektif. Kita diajak tidak hanya bertanya tentang target pribadi, tetapi juga tentang sejauh mana rencana hidup kita memberi dampak sosial yang positif,” ujar alumni Ponpes Al Ishlah ini
Menyusun rencana dan target hidup, lanjutnya, merupakan keharusan. Target tersebut menjadi indikator kesadaran bahwa manusia ingin meningkatkan kualitas diri sekaligus kualitas kehidupan sosial. Namun, target yang disusun seharusnya tidak bersifat egoistik, melainkan selaras dengan nilai-nilai sosial seperti kepedulian, keadilan, dan kebermanfaatan.
“Dalam perspektif sosiologi, target hidup ideal adalah target yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya, meningkatkan kesadaran sosial dan lingkungan, mempromosikan kesetaraan, atau berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan,” jelas Sosiolog lulusan Unair ini
Awal tahun baru menjadi saat yang tepat untuk memulai perubahan positif. Namun demikian, perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan komitmen, kesabaran, serta kesiapan menghadapi tantangan dan dinamika sosial yang terus berubah.
“Perubahan yang berkelanjutan selalu dimulai dari langkah kecil, konsisten, dan realistis. Di sinilah pentingnya kesiapan beradaptasi dan belajar dari proses,” tambah ibu tiga putra putri ini
Nilai refleksi dan peningkatan kualitas diri ini sejalan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS. Al-‘Ashr: 2–3).
Rasulullah Saw juga mengingatkan bahwa orang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.
Dalam konteks ini, mereka yang tidak berusaha meningkatkan kualitas diri, mengabaikan iman, dan enggan beramal saleh, termasuk golongan yang merugi. Karena itu, awal tahun baru seharusnya dimaknai sebagai panggilan untuk berbenah.
“Mari kita mulai tahun baru dengan semangat baru, kesadaran sosial yang tinggi, dan komitmen untuk membuat perbedaan, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat,” pungkasnya
Dengan refleksi, perencanaan yang matang, dan nilai spiritual yang kokoh, awal tahun baru dapat menjadi pijakan menuju masa depan yang lebih bermakna dan berkeadaban.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








