Ikhtiar Menanam untuk Memanen

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Hidup adalah ladang ikhtiar. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita petik di masa depan. Tidak ada hasil tanpa proses, dan tidak ada panen tanpa terlebih dahulu menanam dengan kesungguhan.

Prinsip inilah yang menjadi sunatullah dalam kehidupan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Islam mengajarkan umatnya untuk berikhtiar secara maksimal, namun tetap menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketentuan Allah.

Menanam berarti berbuat, bekerja, berusaha, dan bersungguh-sungguh. Sedangkan memanen adalah menerima buah dari ikhtiar itu, baik berupa keberhasilan, ilmu, pengalaman, maupun hikmah kehidupan.

Allah Swt menegaskan dalam Al-Qur’an “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”(QS. An-Najm: 39)

Ayat ini menegaskan keadilan Allah.Tidak ada keberhasilan yang datang secara instan, dan tidak ada kemuliaan yang diperoleh tanpa perjuangan. Siapa yang menanam kebaikan, maka ia akan memanen kebaikan. Sebaliknya, siapa yang menanam keburukan, maka keburukan pula yang akan ia tuai.

Rasulullah Saw juga bersabda “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap ikhtiar yang bernilai kebaikan tidak pernah sia-sia. Bahkan, usaha yang tampak sederhana sekalipun, jika dilandasi niat yang lurus, akan bernilai pahala di sisi Allah. Menanam bukan sekadar soal hasil materi, tetapi tentang manfaat dan keberkahan.

Dalam kehidupan, sering kali manusia ingin segera memanen tanpa sabar menanam. Ingin hasil besar dengan usaha kecil, ingin sukses tanpa proses panjang. Padahal, alam mengajarkan bahwa benih yang baik perlu waktu untuk bertumbuh, disiram dengan kesabaran, dirawat dengan ketekunan, dan dijaga dari hama kemalasan serta keputusasaan.

Buya Hamka memberikan nasihat yang sangat dalam terkait ikhtiar dan kesabaran:
“Hidup bukanlah menunggu nasib, tetapi mengolah nasib dengan iman, usaha, dan doa.”

Mutiara kata Hamka ini menegaskan bahwa iman tidak mematikan usaha, justru menghidupkannya. Orang beriman bukanlah orang yang pasrah tanpa ikhtiar, tetapi orang yang bekerja keras sambil menggantungkan harapan hanya kepada Allah.

Prof Hamka juga berkata “Jangan takut menanam kebaikan, meskipun engkau tidak sempat memanen. Sebab Allah tidak pernah menyia-nyiakan satu benih pun.”

Kalimat ini menguatkan hati bagi siapa pun yang sedang berjuang namun belum melihat hasil. Bisa jadi panen itu datang terlambat, atau justru dipetik oleh generasi setelah kita, namun pahalanya tetap mengalir.

Ikhtiar menanam untuk memanen adalah jalan hidup orang-orang beriman. Menanam amal saleh, menanam ilmu, menanam kerja keras, dan menanam kejujuran.

Maka yakinlah, pada waktunya Allah akan mempertemukan kita dengan panen terbaik, baik di dunia maupun di akhirat. Karena Allah Maha Menepati janji, dan ladang kehidupan tidak pernah ingkar pada benih yang ditanam dengan sungguh-sungguh.

Penulis Fathurrahim Syuhadi