SURABAYA lintasjatimnews – Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Tidak ada satu pun yang benar-benar abadi, selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, berlarut-larut dalam duka sejatinya hanya akan memperpanjang penderitaan jiwa. Duka yang terus dipelihara dapat menutup mata hati dari berbagai kebahagiaan dan kenikmatan yang sesungguhnya telah Allah hamparkan di sekitar kita.
Ketika kesedihan menggenggam hati terlalu kuat, tanpa disadari ia menyeret manusia pada kufur nikmat dan menjauh dari rasa syukur.
Padahal Allah telah menegaskan dalam firman-Nya “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ayat ini bukan sekadar penghibur, melainkan janji ilahi yang pasti. Kesulitan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa benih kemudahan, meski terkadang kemudahan itu belum tampak oleh mata yang letih dan hati yang gelisah.
Allah juga menenangkan hamba-Nya dengan firman lain “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Artinya, setiap ujian telah ditakar dengan penuh kasih sayang. Tidak ada penderitaan yang salah alamat. Semua sesuai kemampuan, meski menurut perasaan kita terasa sangat berat.
Rasulullah Saw pun menegaskan makna ujian sebagai tanda kebaikan dari Allah. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan bahwa musibah bukanlah bukti kebencian Allah, melainkan justru isyarat perhatian dan cinta-Nya. Ujian adalah sarana pembersihan dosa, penguat iman, sekaligus tangga untuk meninggikan derajat seorang hamba di hadapan Rabb-nya.
Buya Hamka, ulama besar sekaligus sastrawan ruhani, pernah mengingatkan dengan indah “Hidup tidak pernah sunyi dari cobaan. Tetapi di situlah harga hidup ditentukan; apakah manusia menyerah, atau bangkit dengan iman.”
Bagi Hamka, penderitaan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan ruang pembelajaran agar manusia mengenal dirinya dan Tuhannya dengan lebih jujur.
Kesulitan memang menuntut kesabaran. Tidak semua orang mampu berpikir jernih saat tertimpa ujian. Ada yang tergelincir pada prasangka buruk kepada Allah, merasa ditinggalkan, lalu menjauh dari-Nya.
Padahal justru dalam kesulitan itulah pintu pertolongan paling dekat terbuka bagi orang-orang yang bersabar dan bertawakal.
Dalam kehidupan dunia, kebahagiaan tidak pernah diraih tanpa pengorbanan. Kenikmatan tidak lahir dari kemanjaan, tetapi dari kesungguhan dan kesabaran.
Apalagi kenikmatan akhirat; ia menuntut kesabaran panjang dalam lara dan perjuangan. Namun yakinlah, setiap tetes air mata yang disertai iman akan bernilai pahala.
Maka bersabarlah. Dunia memang tempat berlelah-lelahan dalam kesabaran. Adapun tempat istirahat yang sesungguhnya adalah Surga, negeri abadi yang dijanjikan bagi mereka yang sabar dan tetap berharap kepada Allah.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









