Sholat sebagai Ukuran Iman dan Sumber Ketenangan Jiwa

Listen to this article

KEDIRI lintasjatimnews – Jika kita merasa diri beriman, maka sudah seharusnya iman itu tampak dalam sikap dan kebiasaan hidup sehari-hari. Iman bukan sekadar pengakuan lisan atau keyakinan di dalam hati, tetapi harus terwujud dalam ketaatan kepada Allah Swt.

Salah satu tolok ukur paling nyata dari iman adalah bagaimana seseorang memperlakukan sholatnya. Apakah ia menjaga waktu sholat atau justru terbiasa menundanya?

Apakah ia merasa berat untuk bangkit menuju sajadah, ataukah hatinya gelisah ketika belum menunaikannya?

Sering kali kita merasa cukup dengan label “orang beriman”, namun masih ringan mengabaikan kewajiban.

Sholat ditunda dengan alasan kesibukan, Al-Qur’an jarang dibuka karena lelah, dan perintah-perintah Allah perlahan diabaikan karena dianggap tidak mendesak. Padahal, iman sejati justru diuji ketika kita berada di persimpangan antara hawa nafsu dan panggilan Ilahi.

Ketika azan berkumandang, di situlah kejujuran iman diuji : apakah kita segera memenuhi panggilan-Nya atau menundanya demi urusan dunia.

Hal termahal di dunia ini sesungguhnya bukanlah bertambahnya harta, jabatan, atau pujian manusia.

Semua itu fana dan tidak selalu menghadirkan ketenangan. Yang paling berharga justru adalah kegelisahan hati ketika belum sholat, kenikmatan jiwa saat bersimpuh dalam sholat, dan ketenangan mendalam yang hadir setelah sholat ditunaikan.

Kegelisahan itu adalah tanda iman yang hidup. Hati yang masih gelisah karena lalai sholat berarti hati tersebut masih peka terhadap cahaya Allah.

Sholat bukan sekadar gerakan ritual, tetapi dialog ruhani antara hamba dan Tuhannya. Dalam sholat, manusia meletakkan seluruh beban hidupnya di hadapan Allah.

Dalam sujud, kesombongan luruh dan jiwa menemukan tempat pulangnya. Tidak mengherankan bila orang yang menjaga sholatnya akan merasakan ketenangan, meskipun hidupnya sederhana dan penuh ujian.

Karena itu, tetaplah istiqomah dalam ibadah, terutama sholat malam (tahajjud atau qiyamul lail).

Di saat kebanyakan manusia terlelap, bangunlah untuk bermunajat kepada Allah. Perbanyak istighfar agar hati dibersihkan dari dosa, dan perbanyak sholawat sebagai wujud cinta kepada Rasulullah Saw Rutinkan tilawah

Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat setiap hari, karena Al-Qur’an adalah cahaya yang menerangi jiwa dan penuntun hidup orang beriman. Yang terpenting, jagalah sholat fardu tepat waktu, karena di situlah fondasi seluruh amal dibangun.

Dalam Al-Qur’an disebutkan “Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisā’: 103)

Hadis Nabi Saw menyatakan
“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Sedangkan mutiara Iman Buya Hamka :
“Sholat itu bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan jiwa. Barang siapa merasa berat mengerjakan sholat, sesungguhnya ia sedang menanggung beban hidup sendirian, tanpa menyerahkannya kepada Allah.”

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga sholat, mencintai Al-Qur’an, dan istiqomah dalam ketaatan, hingga iman kita benar-benar hidup dan menenteramkan jiwa. Aamiin.

Penulis Fathurrahim Syuhadi