LAMONGAN lintasjatimnews — Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, Dosen STIT Muhammadiyah Paciran Lamongan, Maftuhah, M.Pd., menyerukan pentingnya membangun budaya literasi yang kokoh dan berkelanjutan.
Seruan ini disampaikannya melalui refleksi bertajuk “Menyalakan Lentera Literasi: Dari Membaca Menjadi Manusia Berpengetahuan”, yang menekankan bahwa literasi bukan hanya kemampuan teknis, tetapi fondasi peradaban, Kamis [11/12/2015]
Menurut Maftuhah, derasnya arus informasi ibarat “hujan meteor yang cepat, padat, dan tak tertebak,” sehingga masyarakat memerlukan literasi sebagai alat penjaga kejernihan berpikir dan keteduhan hati.
“Tanpa literasi, manusia mudah terombang-ambing; tetapi dengan literasi, kita memiliki kompas yang menjaga arah,” ujarnya menegaskan.
Ia menjelaskan bahwa literasi adalah kemampuan menafsir kehidupan dan memaknai pengalaman, bukan sekadar membaca teks. Tradisi membaca, menulis, dan berdialog menjadi media utama yang menumbuhkan pengetahuan.
“Seperti benih yang tak akan tumbuh tanpa sentuhan tanah dan air, pengetahuan pun tak akan hidup tanpa dirawat oleh tradisi membaca, menulis, dan berdialog,” tuturnya.
Maftuhah juga mengingatkan bahwa ajaran literasi memiliki akar kuat dalam wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. Ayat “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq…” menjadi isyarat bahwa peradaban Islam dimulai dengan perintah membaca.
“Ayat pertama ini bukan hanya seruan membaca, tetapi deklarasi bahwa peradaban dimulai dari literasi. Pena adalah jembatan manusia dengan ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju Tuhan,” jelas kandidat Doktor dari UMM
Dalam pandangannya, upaya menumbuhkan literasi tidak harus selalu bersifat besar dan formal. Kebiasaan kecil di rumah, sekolah, hingga ruang diskusi kampus dapat menjadi akar kuat bagi lahirnya masyarakat berpengetahuan.
“Kita hanya perlu merawatnya dengan kebiasaan kecil : membaca satu halaman, menulis satu paragraf, merenungkan satu gagasan, atau berdialog dengan satu pertanyaan bermakna,” paparnya
Ia menekankan bahwa budaya literasi tidak lahir dari kegiatan seremonial semata, tetapi dari komitmen, keberanian untuk terus belajar, dan kerendahan hati untuk bertanya.
“Bangsa yang melek literasi adalah bangsa yang tidak mudah tertipu hoaks, tidak gampang digoyang isu, dan tidak cepat larut dalam narasi sesat,” tambah Wakil Ketua STIT ini
Di akhir pesannya, Maftuhah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menyalakan lentera literasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Selama literasi bernafas dalam kehidupan kita, selama itu pula cahaya pengetahuan akan menyinari langkah bangsa,” pungkas aktifis yang energik ini
Ia menutup dengan refleksi yang meneguhkan : “Dengan literasi, kita tidak hanya memahami dunia, tetapi juga memahami diri. Dengan literasi, kita tidak hanya menjadi cakap, tetapi juga bijak.”
Reporter Fathurrahim Syuhadi









