LAMONGAN lintasjatimnews – Kemerdekaan bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi simbol kemenangan bangsa Indonesia.
Amanah besar yang kita emban adalah mengisinya dengan kerja nyata, bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan secara kolektif demi kemajuan bersama.
Allah Swt memerintahkan umat-Nya untuk bekerja sama dalam kebaikan “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa kerja kolektif adalah wujud ketakwaan. Mengisi kemerdekaan secara kolektif berarti menyinergikan potensi bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan yang adil dan merata.
Rasulullah Saw bersabda “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kekuatan umat dan bangsa ada pada persatuan. Dalam konteks kemerdekaan, setiap warga memiliki peran, sekecil apa pun, untuk menopang kemajuan nasional.
KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, pernah menekankan “Cinta tanah air sebagian dari iman.”
Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi seruan moral bahwa membangun bangsa adalah bagian dari ibadah. Mengisi kemerdekaan secara kolektif adalah bentuk pengamalan iman yang nyata.
Sementara itu Ir. Soekarno pernah berpesan “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Pesan ini mengingatkan kita bahwa musuh terbesar pasca-kemerdekaan adalah perpecahan, kemalasan, dan korupsi. Hanya dengan kerja bersama kita bisa mengalahkan tantangan ini.
Mengisi Kemerdekaan di berbagai bidang seperti Pendidikan, kolaborasi antara pemerintah, guru, orang tua, dan komunitas diperlukan untuk menciptakan generasi cerdas dan berkarakter. Bidang ekonomi seperti usaha kolektif melalui koperasi, UMKM, dan ekonomi berbasis komunitas akan memperkuat kemandirian bangsa.
Bidang lingkungan dengan menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama agar kemerdekaan dapat dinikmati generasi mendatang. Bidang Sosial dengan menghidupkan kembali budaya gotong royong dan solidaritas lintas suku, agama, dan daerah.
Mengisi kemerdekaan secara kolektif berarti menjadikan diri bagian dari solusi, bukan penonton. Ayat-ayat Allah, tuntunan Rasulullah, nasihat ulama, dan pesan para tokoh bangsa memberi panduan yang jelas: kemerdekaan harus diisi bersama-sama dengan nilai iman, takwa, persatuan, dan kerja keras. Tanpa itu semua, kemerdekaan akan kehilangan maknanya.
Buya Hamka dalam berbagai ceramahnya menekankan bahwa kemerdekaan harus dimanfaatkan untuk menegakkan keadilan dan mengangkat martabat umat “Kemerdekaan adalah kesempatan untuk menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan. Tanpa kebenaran, kemerdekaan akan menjadi kebebasan yang liar.”
Pesan ini menegaskan pentingnya kemerdekaan yang diisi dengan nilai moral dan tanggung jawab sosial, bukan kepentingan pribadi atau kelompok semata.
KH. Ahmad Dahlan menekankan pentingnya pendidikan dan amal sosial sebagai wujud pengisian kemerdekaan. Perjuangan harus bersifat kolektif, bukan demi keuntungan individu. Dalam konteks bangsa, kemerdekaan harus diisi dengan kontribusi nyata untuk kemajuan bersama.
Di era modern ini, tantangan bangsa semakin kompleks: ketimpangan ekonomi, degradasi moral, kerusakan lingkungan, dan tantangan globalisasi.
Oleh sebab itu, mengisi kemerdekaan tidak cukup dengan semangat individu saja; kita memerlukan kekuatan gotong royong, kolaborasi, dan persatuan seluruh elemen bangsa.
Reporter Fathurrahim Syuhadi