Bangkit, Meski Hati Masih Luka. Karena Allah Tidak Pernah Sia-Siakan Air Matamu

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Masa di mana hati terasa begitu remuk, seolah dunia tak memberi ruang untuk bernapas lega. Dalam kesendirian, air mata mengalir tanpa suara. Dalam keramaian, senyuman dipaksakan untuk menutupi luka.

Tidak semua rasa sakit bisa hilang seketika, dan itu tidak apa-apa. Karena setiap luka butuh waktu, setiap kepedihan butuh doa, dan setiap jiwa butuh ruang untuk perlahan menyembuhkan dirinya sendiri.

Allah Swt berfirman “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (QS. Az-Zumar : 53)

Bangkit bukan berarti kamu harus berlari kencang meninggalkan masa lalu. Bangkit bisa saja berarti kamu menangis malam ini, lalu berkata pada diri sendiri,

“Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin mencoba lagi.” Kadang, duduk sejenak lalu berdiri pelan-pelan juga bentuk kebangkitan. Pelan tapi tetap berjalan.

Rasulullah Saw bersabda “Ketahuilah bahwa pertolongan akan datang bersama kesabaran, dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (HR. Tirmidzi)

Kita seringkali merasa bahwa usaha kita sia-sia karena hasil belum terlihat. Kita sudah berdoa, berikhtiar, berjuang keras, namun seperti tidak ada perubahan.

Tapi pohon pun butuh waktu untuk tumbuh, dan benih kebaikan tidak selalu langsung tampak buahnya. Allah melihat semuanya, bahkan air mata yang tidak tumpah di hadapan manusia.

Tidak ada amal kebaikan sekecil apa pun, kecuali akan dicatat oleh para malaikat (HR. Muslim)

Kita hidup dalam zaman yang memuja kecepatan dan hasil. Tapi jangan biarkan dunia mendikte langkahmu.

Jangan malu jika perjalananmu lambat, asal kamu tidak berhenti. Karena Allah tidak menilai seberapa cepat kamu tiba, tapi seberapa tulus kamu melangkah.

Seperti kata bijak “Tidak apa-apa berjalan pelan, asalkan kamu tidak berhenti. Tidak apa-apa terjatuh, asalkan kamu memilih untuk bangkit lagi.”

Hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat sukses. Tapi siapa yang paling tahan ketika badai datang.

Kemenangan sejati adalah ketika kamu masih bisa berharap meski kecewa. Masih bisa mencintai hidup meski terasa pahit, dan masih terus melangkah meski tertatih.

Jadi, jika hari ini kamu merasa lambat, lelah, atau hampir menyerah, ingatlah satu hal :
“Kamu sudah sejauh ini. Kamu sudah lebih kuat dari yang kamu kira.”

Teruslah melangkah, walau perlahan. Sebab yang terpenting bukan siapa yang cepat sampai, tapi siapa yang tidak menyerah di tengah jalan.

Reporter Fathurrahim Syuhadi