LAMONGAN lintasjatimnews – Kalangan pegiat sastra di Indonesia kembali memperingati Hari Puisi Nasional setiap 28 April. Tanggal ini tidak hadir tanpa makna—ia menandai wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 1949. Meski berpulang di usia muda, 26 tahun, jejak estetik dan keberaniannya terus hidup, menggema dari ruang kelas hingga panggung-panggung sastra.
Menurut Rodli TL, M.Pd., dosen Sastra Film Unisda Lamongan, peringatan Hari Puisi kerap terjebak dalam romantisasi yang dangkal. “Kita sering hanya membaca puisi Aku di atas panggung dengan ekspresi sendu, tetapi lupa semangat perlawanan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan sosok Chairil Anwar sebagai ikon Hari Puisi bukan tanpa alasan. Di tengah tradisi sastra yang kala itu masih kental dengan bahasa Melayu tinggi dan ungkapan metaforis yang halus, Chairil justru tampil sebagai pemberontak. Puisinya yang terkenal, dengan larik “Aku ini binatang jalang,” menjadi simbol keberanian mendobrak pakem lama.
“Chairil membebaskan puisi dari sangkar feodal. Ia menghadirkan bahasa yang jujur, liar, dan personal. Itu yang harusnya kita rayakan, bukan sekadar simboliknya,” tegas Koordinator Dakwah Kreatif LDK PDM Lamongan
Lebih jauh, ia mengkritik kondisi puisi masa kini yang dinilai cenderung kehilangan daya gugat. Banyak karya, menurutnya, hanya berkutat pada tema-tema klise seperti patah hati, senja, atau bahkan spiritualitas yang dikemas demi popularitas di media sosial. “Puisi hari ini terlalu ingin disukai. Padahal tugas penyair bukan menyenangkan telinga, tapi mengusik kesadaran,” tambahnya.
Rodli menilai, semangat Chairil Anwar justru terletak pada keberanian untuk tidak disetujui. Dalam puisinya, Chairil menulis karena dorongan eksistensial—karena jika tidak menulis, ia merasa mati sebelum waktunya. Nilai ini, kata Rodli, yang mulai pudar di kalangan penyair muda.
Momentum Hari Puisi Nasional, lanjutnya, seharusnya menjadi refleksi bersama: apakah puisi masih menjadi alat berpikir dan bersuara, atau hanya sekadar hiasan digital. Ia mendorong generasi muda untuk berani mengangkat tema-tema yang lebih “berbahaya” dan relevan, seperti korupsi, kesehatan mental, hingga dinamika sosial-politik.
“Puisi harus hadir sebagai suara. Bukan sekadar estetika, tapi juga etika dan keberanian,” ujarnya.
Namun demikian, Rodli juga mengingatkan agar para penyair tidak terjebak menjadi peniru.
Ia mengajak untuk “membunuh Chairil” dalam arti simbolik—melampaui gaya dan pengaruhnya, bukan sekadar menirunya. “Cara terbaik menghormati Chairil adalah dengan menjadi diri sendiri, sebagaimana ia dulu menolak menjadi salinan siapa pun,” jelas pria yang tinggal di Kecamatan Kalitengah ini
Di era ketika semua orang dapat dengan mudah mempublikasikan karya, tantangan terbesar justru terletak pada kejujuran. Rodli menegaskan bahwa puisi yang kehilangan keberanian hanyalah bentuk kematian kedua—lebih sunyi dan lebih berbahaya daripada kematian fisik penyairnya.
Menutup refleksinya, ia mengutip salah satu semangat dalam karya Chairil Anwar : hidup mungkin hanya menunda kekalahan, tetapi setidaknya manusia harus pernah melawan.
“Hari Puisi bukan sekadar nostalgia. Ia adalah panggilan: masihkah kita punya nyali untuk jujur, setajam dan sepahit Chairil?” pungkasnya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi









