SURABAYA lintasjatimnews – Kehidupan manusia ibarat roda yang terus berputar. Kadang berada di atas dengan segala kemudahan dan keberhasilan, lalu suatu saat bisa berada di bawah dalam keadaan penuh ujian dan kesulitan.
Inilah hukum kehidupan yang tidak bisa dihindari. Allah Swt. telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa kehidupan dunia penuh dengan dinamika, pergantian keadaan, serta ujian yang datang silih berganti.
Allah Swt. berfirman “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Ali Imran: 140).
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan tidak pernah statis. Siapa yang hari ini merasakan nikmat dan kemenangan, esok bisa jadi diuji dengan kesulitan. Sebaliknya, siapa yang hari ini berada dalam kesedihan, bisa jadi esok Allah gantikan dengan kebahagiaan.
Rasulullah Saw. juga telah mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah ladang ujian, bukan tempat tinggal abadi. Beliau bersabda “Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh terbuai dengan keadaan, baik ketika mendapatkan kesenangan maupun saat dirundung kesulitan. Semua adalah bagian dari perjalanan menuju akhirat yang kekal.
Pertama, saat berada di atas, jangan sombong. Kesuksesan, kekayaan, jabatan, dan kesehatan adalah amanah sementara. Imam Al-Ghazali pernah berkata: “Janganlah engkau tertipu dengan dunia, karena ia tidak pernah menetap bagi seorang pun.” Kesombongan hanya akan menjatuhkan kita lebih cepat ketika roda berputar ke bawah.
Kedua, saat berada di bawah, jangan berputus asa. Kehidupan yang sulit bukan berarti Allah meninggalkan hamba-Nya. Justru dalam ujian itulah terdapat kesempatan untuk mendekat kepada-Nya. Nabi Muhammad Saw. bersabda “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim).
Artinya, dalam senang ia bersyukur, dalam susah ia bersabar. Dua sikap inilah yang membuat hidup seorang mukmin selalu berada dalam kebaikan.
Ketiga, hidup berputar agar manusia belajar. Ulama salaf mengingatkan: “Jika engkau ingin tahu nilai dunia, lihatlah siapa yang paling kaya dan siapa yang paling miskin, keduanya akan dikubur di tanah yang sama.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa perputaran hidup hanyalah sarana untuk mendewasakan jiwa.
Hidup laksana roda yang berputar adalah sunnatullah. Kadang kita diberi kelapangan, kadang kesempitan. Kadang berada di atas, kadang di bawah. Maka, jangan pernah sombong ketika diberi nikmat, dan jangan pula berputus asa saat diuji. Dengan syukur dan sabar, roda kehidupan yang berputar itu akan selalu menjadi jalan menuju ridha Allah.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









