Halalbihalal dan Parenting KBG Kecamatan Paciran, Solokuro, dan Laren

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Kelompok Belajar Guru (KBG) TPQ tiga kecamatan, yaitu Paciran, Laren, dan Solokuro, sukses menyelenggarakan acara istimewa bertajuk Halal Bihalal & Parenting pada hari Ahad, tanggal 6 April 2026.

Acara yang digelar di Aula Ridlwan Syarqowi, Pondok Pesantren Modern Paciran, Kabupaten Lamongan ini mengusung tema besar “Membangun Karakter Ustadz-Ustadzah dan Santri”, yang menjadi bukti komitmen para pendidik dan tokoh pendidikan dalam memperkuat fondasi moral dan akhlak di lingkungan pendidikan.

Kegiatan ini bukan sekadar perayaan tradisi silaturahmi pasca Hari Raya Idulfitri, melainkan juga sebuah forum edukasi strategis yang mempertemukan para pendidik tiga kecamatan, serta pengamat pendidikan. Kehadiran peserta yang memadati aula menunjukkan antusiasme tinggi dan kesadaran kolektif akan pentingnya pembentukan karakter sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan nasional maupun keagamaan.

Dalam sambutan pembukaannya, Ketua KBG, Fauzul Adhim, SE menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini. “Pendidikan tidak hanya berhenti pada transfer ilmu pengetahuan atau kognitif semata, tetapi lebih utama adalah pembentukan karakter dan akhlak. Ustadz dan ustadzah sebagai garda terdepan harus memiliki karakter teladan, sementara santri sebagai generasi penerus harus dibekali dengan nilai-nilai luhur agar mampu bersaing namun tetap berpegang pada prinsip agama,” ungkapnya.

Acara ini semakin bermakna dengan kehadiran dua pemateri utama yang memiliki kompetensi dan pengalaman luas di bidangnya masing-masing, yaitu Bapak Ahmad Labib, S.Hi., M.H., Anggota Komisi VI DPR RI, dan Bapak Aris Setiawan, S.T.P., C.H.I., C.Mth., seorang motivator handal yang dikenal melalui berbagai karyanya dalam pengembangan sumber daya manusia.

Dalam pemaparannya, Ahmad Labib menyoroti peran strategis lembaga pendidikan Al Qur’an dan para pendidik dalam membangun peradaban bangsa. Sebagai anggota legislatif yang juga berlatar belakang pendidikan keagamaan, ia menekankan bahwa karakter pendidik adalah cermin dari apa yang akan ditransfer kepada para santri. “Ustadz dan ustadzah bukan hanya pengajar, tetapi juga pembentuk jiwa. Keteladanan adalah metode pendidikan yang paling efektif. Oleh karena itu, penguatan karakter bagi para pendidik adalah syarat mutlak sebelum kita menuntut karakter yang baik dari para santri,” tegas Ahmad Labib.

Ia juga menyinggung tentang dukungan kebijakan dan regulasi yang berupaya mengakomodasi kebutuhan pendidikan berbasis karakter, serta pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, pembentukan karakter ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dan juga nilai-nilai ajaran agama yang mengajarkan keseimbangan antara kesuksesan dunia dan persiapan akhirat.

Sementara itu, Aris Setiawan menyampaikan materi dengan gaya yang dinamis dan inspiratif. Sebagai motivator, ia menguraikan metode-metode praktis dalam membangun karakter, mulai dari manajemen diri, pembentukan kebiasaan positif, hingga cara berkomunikasi yang efektif antara pendidik dan santri, serta peran orang tua di rumah. “Karakter tidak terbentuk dalam semalam, melainkan melalui proses, keteladanan, dan pengulangan. Di era digital ini, tantangan bagi santri semakin kompleks, maka bekal karakter yang kuat seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kemandirian harus ditanamkan sejak dini,” jelas Aris.

Ia juga menekankan aspek parenting yang menjadi bagian dari judul acara ini. Menurutnya, keberhasilan pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada ustadz dan ustadzah di pondok pesantren atau sekolah. Orang tua memiliki peran yang sama krusialnya. Keselarasan nilai yang diajarkan di lembaga pendidikan dan yang diterapkan di rumah akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan mental dan spiritual santri.

Sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung hangat menjadi bukti bahwa acara ini berhasil memicu kesadaran dan keinginan untuk berubah serta berkembang. Banyak pertanyaan mendalam yang diajukan peserta, mulai dari cara menangani perbedaan karakter santri, tantangan mendidik di era media sosial, hingga strategi menjaga semangat dan integritas bagi para pendidik.

Di sela-sela kegiatan, suasana halal bihalal juga terasa kental. Peserta saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan mempererat tali silaturahmi yang terjalin antar sesama guru dari tiga kecamatan yang berbeda. Momen ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas dan kolaborasi antar lembaga pendidikan di wilayah Paciran, Laren, dan Solokuro demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Lamongan.

Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar ilmu serta inspirasi yang didapatkan dapat segera diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, maupun masyarakat luas. Kegiatan Halal Bihalal & Parenting ini menjadi bukti nyata bahwa upaya membangun karakter adalah tanggung jawab bersama yang harus terus digelorakan demi lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Reporter: Alfain Jalaluddin Ramadlan