SURABAYA lintasjatimnews – Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah lepas dari interaksi dengan sesama. Dari situlah muncul berbagai dinamika : kebahagiaan yang menguatkan, tetapi juga kesalahpahaman yang melukai. Tidak jarang, luka yang kecil dibiarkan menjadi besar karena tidak ada keberanian untuk memaafkan. Begitu pula doa yang seharusnya menjadi penghubung kebaikan, sering kali hanya terhenti pada diri sendiri.
Islam telah mengajarkan dengan begitu indah tentang pentingnya kedua hal tersebut. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Rasulullah Saw pun memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Dalam sebuah hadis disebutkan “Tidaklah berkurang harta karena sedekah, tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda “Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah mustajab. Di sisinya ada malaikat yang ditugaskan, setiap kali ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat itu berkata: ‘Aamiin, dan bagimu seperti itu.’” (HR. Muslim)
Betapa indah ajaran ini. Ketika kita mendoakan orang lain, sesungguhnya kita juga sedang mendoakan diri kita sendiri. Doa menjadi jembatan tak terlihat yang menghubungkan hati-hati manusia dalam kebaikan.
Idul Fitri bukan sekadar hari raya yang dirayakan dengan pakaian baru dan hidangan istimewa. Ia adalah momen spiritual yang mengajak kita kembali kepada fitrah—kepada hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan hubungan yang dipenuhi kasih sayang.
Namun, realitasnya tidak selalu mudah. Memaafkan membutuhkan keberanian, terutama ketika luka yang dirasakan begitu dalam. Mendoakan orang lain juga memerlukan keikhlasan, terutama ketika hati masih dipenuhi rasa kecewa.
Sebagaimana sebuah mutiara hikmah mengatakan : “Memaafkan tidak mengubah masa lalu, tetapi ia memperluas masa depan.” Kalimat sederhana ini mengandung makna yang dalam. Ketika kita memaafkan, kita tidak menghapus apa yang telah terjadi, tetapi kita memilih untuk tidak lagi terpenjara olehnya.
Pada akhirnya, saling mendoakan dan memaafkan adalah dua sayap yang akan mengangkat manusia menuju kedamaian sejati. Tanpa keduanya, hidup akan terasa berat dan sempit. Namun dengan keduanya, hati menjadi ringan, langkah menjadi lapang, dan hubungan menjadi lebih bermakna.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









