SURABAYA lintasjatimnews – Manusia sejatinya hanyalah pengendara di atas punggung usianya. Hari demi hari bergulir tanpa terasa, bulan dan tahun terus berputar, sementara nafas kita setia berjalan mengikuti irama waktu. Tanpa kita sadari, setiap detik yang berlalu sejatinya sedang menuntun kita menuju satu pintu yang pasti : kematian.
Sering kali kita merasa dunia ini semakin dekat dan nyata, padahal hakikatnya justru sebaliknya. Kitalah yang semakin menjauh dari dunia, dan semakin mendekat ke liang kubur. Satu hari yang berlalu bukan sekadar waktu yang terlewati, tetapi juga berkurangnya jatah usia yang telah ditetapkan. Inilah kenyataan yang tak bisa ditawar oleh siapa pun.
Allah Swt mengingatkan dalam Al-Qur’an
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (QS. Ali Imran: 185).
Ayat ini menjadi penegas bahwa kematian bukanlah kemungkinan, melainkan kepastian. Hanya waktunya saja yang menjadi rahasia.
Umur yang tersisa hari ini adalah harta paling berharga. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa diulang, dan tidak bisa ditunda. Maka sungguh merugi jika waktu itu berlalu tanpa ketaatan. Sebab, esok hari belum tentu menjadi bagian dari hidup kita.
Rasulullah Saw bersabda “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim).
Hadis ini mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan, karena kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Janganlah kita tertipu oleh usia muda, sebab kematian tidak menunggu tua. Jangan pula terpedaya oleh tubuh yang sehat, karena kematian tidak harus didahului sakit.
Betapa banyak yang masih muda dipanggil lebih dahulu, dan betapa banyak yang tampak sehat namun tiba-tiba berpulang.
Karena itu, teruslah berbuat baik dan berkata yang baik. Tidak perlu menunggu dikenal banyak orang untuk berbuat kebaikan. Sebab sejatinya, bukan pengakuan manusia yang kita cari, melainkan ridha Allah yang kita harapkan.
Ada sebuah kata mutiara yang layak direnungkan “Hidup bukan tentang berapa lama kita hidup, tetapi tentang bagaimana kita mengisi kehidupan itu dengan makna dan kebaikan.”
Kebaikan yang kita tanam hari ini, meski kecil dan sederhana, akan menjadi cahaya dalam perjalanan panjang menuju keabadian. Ia akan menjadi kenangan indah bagi mereka yang kita tinggalkan, dan menjadi bekal berharga saat kita berdiri di hadapan Allah kelak.
Maka, selama nafas masih berhembus, jangan sia-siakan waktu. Jadikan setiap detik sebagai ladang amal, setiap kata sebagai doa, dan setiap langkah sebagai bentuk ketaatan. Karena pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah dunia, melainkan amal yang kita lakukan di dalamnya.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









