Pengamat Intelijen UI : Bergabungnya Indonesia ke BoP Bukan Penyebab Serangan AS-Israel ke Iran

Listen to this article

JAKARTA lintasjatimnews – Pengamat Intelijen soroti bergabungnya Indonesia ke Board of Peace (BOP) serta pengaruhnya terhadap konflik di Timur Tengah.

Indonesia bergabung atau tidak bergabung ke Board of Peace, Iran tetap diserang Amerika serikat – Israel. Kata Pengamat Intelijen Universitas Indonesia, Paijo Parikesit dalam keterangan tertulisnya kepada Wartawan Sabtu, (7/3/2026).

Menurut Paijo Parikesit banyak Tokoh- tokoh Agama dan Universitas yang menyudutkan Presiden Prabowo Subianto terkait bergabungnya Indonesia ke Board of Peace atau BOP serta menyangkut isi Perjanjian Dagang terkait tarif yang diberlakukan Amerika Serikat.

Berikut beberapa Hal yang perlu dijelaskan agar Rakyat tidak tertipu atas kritik- kritik yang disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Konflik Iran – Israel memuncak pada Juni 2025 dengan serangan udara besar-besaran Israel (Operasi Kebangkitan Singa) terhadap situs nuklir dan militer Iran pada 13 Juni.

Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Tel Aviv sebagai pembalasan, memicu perang 12 hari yang berakhir dengan gencatan senjata pada 24 Juni 2025,” papar Paijo Parikesit.

“Pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat melancarkan operasi militer, yang dilaporkan sebagai “Operation Midnight Hammer”, Dengan mengebom fasilitas nuklir utama Iran di Fordo, Natanz, dan Esfahan menggunakan pesawat pengebom B-2.

Serangan ini terjadi di tengah konflik Iran – Israel yang memanas, dan diperintahkan oleh Presiden Donald Trump untuk melumpuhkan program nuklir Iran,” terangnya.

Kemudian dilanjutkan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait fasilitas nuklir Iran.

“Board of Peace (BoP) adalah Dewan perdamaian inisiatif Amerika Serikat yang diprakarsai Presiden Donald Trump untuk mencari solusi konflik Palestina-Israel, dan ditandatangani pada 22 Januari 2026 di Davos, Swiss,” tegas Paijo Parikesit.

Indonesia, di bawah Presiden Prabowo Subianto bergabung untuk mendorong kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara.

Selanjutnya, Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau Perjanjian Dagang Timbal Balik di Washington DC pada 19 Februari 2026.

“Perjanjian ini menyepakati tarif timbal balik 19 % untuk produk Indonesia ke AS dan penghapusan hambatan tarif > 99 % produk AS ke Indonesia,” terangnya.

“Perang antara Amerika Serikat – Israel Versus Iran baru dimulai bulan maret 2026 yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran,” ujar Paijo Parikesit.

“Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto bergabung kedalam BOP yang bertujuan untuk perdamaian di Gaza dan Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) sesudah terjadi konflik Amerika Serikat – Israel dengan Iran.
Artinya juga BOP dan Agreement on Reciprocal Trade (ART) merupakan Hal yang berbeda dengan adanya konflik perang yang Amerika Serikat – Israel dengan Iran yang terjadi saat ini,” tegas Paijo Parikesit.

“Artinya Tokoh- tokoh dan Organisasi yang menyudutkan kebijakan luar negeri Presiden Prabowo Subianto Salah besar, Dan sepertinya patut diduga ingin membonceng isu -isu BOP dan Agreement on Reciprocal Trade (ART) untuk menciptakan kegaduhan dan kemarahan masyarakat dengan isu -isu tersebut,” ungkap Paijo Parikesit.

“Jika Agreement on Reciprocal Trade (ART) belum disepakati dengan adanya perang Amerika – Israel melawan Iran yang menyebabkan ditutupnya selat Hormuz sebagai lalu lintas utama perdagangan minyak dunia dengan tujuan impor ke Indonesia, Maka Indonesia akan sulit untuk mendapatkan masukan Minyak mentah dari negara – negara Timur Tengah,” terangnya.

“Namun dengan adanya Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat yang salah satu isinya Indonesia wajib membeli Minyak dan Gas Amerika Serikat, Maka kelangkaan BBM domestik bisa terhindar akibat terhambatnya supply Minyak mentah dari Timur Tengah ke Indonesia akibat perang,” ujar Paijo Parikesit.

“Nah, Bagi yang waras jangan sampai terprovokasi oleh isu -isu negatif terkait BOP & Agreement on Reciprocal Trade (ART) Amerika Serikat dan Indonesia,” pungkas Paijo Parikesit.

Reporter : Edo Lembang