SURABAYA lintasjatimnews – Kehidupan di dunia adalah perjalanan singkat menuju kehidupan yang kekal. Dalam perjalanan ini manusia sering kali sibuk mengumpulkan harta, mengejar jabatan, dan membanggakan keturunan.
Padahal, semua itu tidak akan berarti apa-apa pada hari ketika manusia berdiri di hadapan Allah. Pada hari itu, yang menjadi penentu keselamatan hanyalah amal shalih dan hati yang bersih.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)
Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan di akhirat tidak ditentukan oleh kekayaan atau kedudukan. Yang menjadi penentu adalah qalbun salim, hati yang bersih dari kesyirikan, kemunafikan, serta penyakit hati lainnya. Hati yang bersih inilah yang melahirkan amal shalih yang tulus.
Amal shalih adalah segala perbuatan baik yang dilakukan sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasul-Nya. Amal ini menjadi bekal utama yang dapat diandalkan ketika manusia tidak lagi memiliki apa-apa selain apa yang telah ia kerjakan selama hidup di dunia.
Rasulullah Saw bersabda “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa nilai seorang hamba di sisi Allah bukanlah pada penampilan lahir atau kekayaan yang dimiliki, melainkan pada ketulusan hati dan amal perbuatannya.
Namun demikian, amal kebajikan tidak cukup hanya sekadar dilakukan. Amal itu harus memenuhi dua syarat utama agar diterima oleh Allah. Pertama, ikhlas karena Allah semata. Kedua, ittiba’, yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Saw
Amal kebajikan tanpa keikhlasan tidak memiliki nilai di sisi Allah. Al-Qur’an menggambarkannya sebagai sesuatu yang sia-sia “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang beterbangan.”(QS. Al-Furqan: 23)
Amal yang dilakukan karena riya, ingin dipuji, atau demi kepentingan dunia, pada akhirnya tidak menghasilkan pahala. Ia seperti debu yang beterbangan—tampak banyak tetapi tidak memiliki bobot apa pun.
Sebaliknya, amal yang dilakukan tanpa mengikuti tuntunan Rasulullah Saw juga tidak akan diterima. Amal seperti itu hanya akan memberatkan pelakunya. Para ulama mengibaratkannya seperti seorang pengembara yang memenuhi tas perjalanannya dengan batu. Tas itu memang menjadi berat, tetapi tidak membawa manfaat apa pun.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu menjaga dua hal ini: keikhlasan dan kesesuaian dengan sunnah. Dengan keduanya, amal kecil sekalipun bisa bernilai besar di sisi Allah.
Ulama besar Nusantara, Buya Hamka, pernah menyampaikan sebuah hikmah yang sangat dalam “Bukan besar kecilnya pekerjaan yang menentukan nilainya, tetapi keikhlasan hati ketika mengerjakannya.”
Pesan ini mengajarkan bahwa amal sederhana seperti tersenyum, menolong orang lain, atau memberi sedikit sedekah bisa menjadi sangat berharga jika dilakukan dengan hati yang tulus.
Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan amal kebajikan sekecil apa pun. Rasulullah Saw bersabda “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang tersenyum.”
(HR. Muslim)
Kita tidak pernah tahu amal mana yang paling dicintai oleh Allah dan yang akan menjadi sebab turunnya ampunan-Nya. Bisa jadi sebuah amal kecil yang kita anggap remeh justru menjadi penyelamat kita di hari kiamat.
Maka bersemangatlah untuk terus beramal shalih. Isi kehidupan dengan kebaikan, jaga keikhlasan hati, dan ikuti tuntunan Rasulullah Saw. Semoga ketika tiba hari di mana harta, jabatan, dan anak tidak lagi berguna, kita termasuk orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat serta amal yang diterima.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









