Masjid sebagai Cermin Keimanan

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Masjid bukan hanya bangunan, ia adalah rumah tempat hati-hati yang mencintai Allah berkumpul.

Jika hatimu rindu masjid, berarti jiwamu masih hidup. Jika engkau jauh darinya, tanyakan pada hatimu: masihkah engkau hidup dengan iman?

Allah Swt. berfirman “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, yang tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa masjid adalah barometer keimanan. Orang-orang yang hatinya terpaut kepada masjid dan aktif memakmurkannya adalah mereka yang telah lulus sebagian dari ujian keimanan. Sebaliknya, hati yang berat melangkah ke masjid mencerminkan masih lemahnya hubungan dengan Allah.

Memakmurkan masjid bukan hanya tentang membangun fisiknya, tetapi lebih utama adalah kehadiran kita secara rutin dalam ibadah di dalamnya terutama shalat berjamaah.

Rasulullah Saw. Menjelaskan “Jihad yang paling utama adalah berjihad melawan hawa nafsumu sendiri karena Allah (HR. Abu Nu’aim)

Shalat Subuh dan Isya berjamaah menjadi ukuran yang nyata dari seberapa besar kita mampu menundukkan hawa nafsu.

Rasulullah Saw. Bersabd “Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan Subuh berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus merangkak. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bangun saat Subuh, meninggalkan kasur yang hangat, melangkah ke masjid di tengah gelap dan dinginnya malam—semua itu adalah tanda kekuatan iman dan pengorbanan yang besar untuk Allah. Inilah jihad harian yang tak banyak disadari nilainya.

Allah Swt. Berfirman “Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk (QS. Al-Baqarah: 43)

Masjid adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang rukuk dan sujud. Mereka yang hadir di sana bukan hanya mengerjakan ritual, tetapi sedang menyambungkan hati mereka kepada Sang Pencipta.

Mari kita jadikan Subuh dan Isya berjamaah sebagai rutinitas, bukan sekadar kewajiban. Jadikan kehadiran kita di masjid sebagai bukti cinta dan ketundukan kepada Allah. Ajak keluarga, anak-anak, dan sahabat untuk istiqamah memakmurkan masjid.

Karena masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi tempat pembinaan iman, kekuatan ukhuwah, dan pusat kebangkitan umat.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang disebut
dalam firman-Nya “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan salat dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi goncang (QS. An-Nur: 37)

Kehidupan seorang mukmin berputar di antara adzan dan iqamah. Dan masjid adalah pangkalan imannya.

Penulis Fathurrahim Syuhadi