SURABAYA lintasjatimnews – “Kullu man ‘alaiha faan”, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. Al-Rahman: 26).
Ayat ini menegaskan hakikat bahwa manusia adalah makhluk yang fana, terbatas, dan tak sempurna. Namun justru di sanalah letak keistimewaan manusia.
Ia disebut sempurna bukan karena tidak pernah salah, melainkan karena memiliki kemampuan untuk menyadari kesalahan, memperbaikinya, dan terus bertumbuh menjadi lebih baik.
Manusia tidak seperti malaikat yang selalu taat, juga tidak seperti binatang yang hanya mengikuti naluri. Allah menganugerahinya akal, hati, dan kehendak bebas. Maka, ketika ia terjatuh dalam dosa, ia pun bisa bangkit dan kembali kepada Allah.
Ia diberi akal, hati, dan kehendak bebas. Ia bisa terjerumus dalam dosa, namun juga bisa bangkit dan kembali kepada Allah Swt.
Dalam hal ini, Rasulullah bersabda “Kullu bani Adam khaththa’, wa khairul-khaththa’ina at-tawwabun.”Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499)
Hadis ini menegaskan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, dari situlah muncul potensi kemuliaan.
Taubat, introspeksi, dan usaha memperbaiki diri adalah cerminan dari kesempurnaan spiritual.
Ketidaksempurnaan juga mengajarkan kerendahan hati. Tidak ada manusia yang dapat mengklaim dirinya suci atau bebas dari cela.
Bahkan Nabi Muhammad Saw manusia paling mulia, dalam doanya sering memohon ampunan “Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan maupun yang aku tampakkan (HR. Muslim no. 2719)
Kesadaran akan kefanaan dan kelemahan diri mengantarkan manusia pada sikap tawadhu, menjauhi kesombongan, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah yang Maha Sempurna.
Kesempurnaan manusia bukanlah kondisi tanpa cacat. Melainkan proses berkelanjutan dalam mengelola cacat itu dengan kesabaran, kejujuran, dan pengharapan kepada rahmat Ilahi.
Maka, manusia yang terbaik bukanlah yang tak pernah gagal, tetapi yang terus bangkit dan kembali kepada Allah Swt setiap kali terjatuh. Kita diciptakan tidak untuk menjadi sempurna, tapi untuk belajar menyempurnakan diri di hadapan-Nya.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Al-Rahman: 13)—termasuk nikmat ketidaksempurnaan, yang menjadi jembatan menuju kesempurnaan sejati di sisi-Nya.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









