LAMONGAN lintasjatimnews – Ramadhan terus berjalan, setia pada hukum waktu yang tak pernah menunggu siapa pun. Sepuluh hari pertama telah berlalu—fase yang disebut sebagai hari-hari rahmat. Kini kita memasuki sepuluh hari kedua, fase yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai masa maghfirah, masa ketika langit seakan lebih dekat dan pintu ampunan dibuka lebih lebar.
Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ bersabda:
“Awal Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan (maghfirah), dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (HR. Muhammad, diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi)
Maghfirah berarti penutupan dosa. Bukan sekadar dihapus, tetapi ditutup rapat oleh kasih sayang Allah. Betapa indahnya jika catatan kesalahan yang selama ini kita pikul, perlahan diganti dengan catatan kebaikan.
Kita semua adalah manusia yang tak luput dari salah. Ada kata yang terucap tanpa dipikirkan, ada janji yang tertunda, ada kewajiban yang terabaikan. Dosa tidak selalu berbentuk besar dan mencolok; sering kali ia hadir dalam kelalaian kecil yang terus berulang.
Namun, Islam tidak membangun umatnya di atas keputusasaan. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Az-Zumar: 53)
Ayat ini adalah undangan yang lembut sekaligus tegas. Seolah Allah memanggil kita dengan penuh kasih: pulanglah. Tak peduli sejauh apa kita pernah melangkah menjauh, pintu itu tetap terbuka.
Di pertengahan Ramadhan ini, pertanyaannya bukan lagi seberapa lama kita berpuasa, tetapi seberapa dalam kita bertobat. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menundukkan ego dan membersihkan jiwa.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis sahih riwayat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Janji ini bukan janji kosong. Ia adalah kabar gembira yang menumbuhkan harapan. Bayangkan, dosa-dosa yang mengendap bertahun-tahun bisa luruh karena puasa yang dilakukan dengan iman dan penuh pengharapan.
Tetapi maghfirah tidak datang kepada hati yang lalai. Ia menghampiri jiwa yang mengetuk dengan istighfar, yang merunduk dengan penyesalan, yang bangkit dengan tekad memperbaiki diri.
Maka, pertengahan Ramadhan adalah momentum keberanian: berani mengakui salah, berani meminta maaf, berani memaafkan.
Allah kembali mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?” (An-Nur: 22)
Seakan Allah mengajarkan satu hukum spiritual: siapa yang memaafkan, ia sedang menjemput ampunan. Siapa yang melapangkan hati, ia sedang membuka pintu langit bagi dirinya sendiri.
Di malam-malam Tarawih yang hening, di sela lantunan ayat suci, di antara doa yang lirih, sesungguhnya kita sedang berdiri di ambang pengampunan. Tinggal satu hal yang menentukan: kesungguhan.
Ramadhan tidak meminta kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta kita menjadi lebih baik dari kemarin. Ia tidak menuntut air mata yang banyak, tetapi hati yang benar-benar ingin berubah.
Karena pada akhirnya, keberhasilan Ramadhan bukan diukur dari meriahnya awal bulan, melainkan dari bersihnya jiwa di pertengahan dan akhir perjalanan. Yang paling beruntung bukan yang sekadar berpuasa, tetapi yang pulang dari Ramadhan dengan dosa yang diampuni dan hati yang diperbarui.
Di pintu maghfirah ini, semoga kita tidak hanya berdiri sebagai penonton. Semoga kita melangkah masuk, membawa harap, membawa sesal, dan pulang dengan ampunan.
Kontributor: M. Said









