Ketika Ramadhan Mengetuk Hati: Catatan Sunyi di Sepertiga Perjalanan

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Ramadhan berjalan seperti desir angin yang lembut—tak terasa, namun pasti. Baru kemarin kita menyambutnya dengan harap dan doa, kini sepuluh hari pertamanya telah pergi meninggalkan jejak. Waktu tidak pernah menunggu, dan Ramadhan tidak pernah kembali dengan wajah yang sama.

Di titik ini, ada satu pertanyaan yang seharusnya berani kita ajukan pada diri sendiri:
Apakah kita sedang berubah, atau hanya sekadar menjalani kebiasaan tahunan?

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(Al-Baqarah: 183)

Orientasi puasa adalah takwa.
Bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan amarah.
Bukan sekadar menahan dahaga, tetapi menahan kata-kata yang membuat luka.
Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menumbuhkan kesadaran.
Puasa adalah dialog sunyi antara hamba dengan Allah SWT. Saat tak seorang pun melihat, kita tetap tidak minum. Saat tak ada yang tahu, kita tetap menahan diri. Di situlah kejujuran dilatih—di ruang yang tak terjamah sorotan manusia.

Namun Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan tegas. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Hadis ini seperti cahaya yang menembus kabut. Ia menyingkap satu kenyataan: puasa bukan soal perut, tetapi soal hati. Jika lisan masih mudah menggunjing, jika jari masih ringan menyebar prasangka, jika hati masih penuh iri, maka mungkin yang berpuasa hanya tubuh—bukan jiwa.

Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Ia mengajarkan sabar ketika lelah, ikhlas ketika memberi, dan empati ketika melihat sesama menahan lapar. Dalam kesederhanaan sahur dan iftar (berbuka), kita diingatkan bahwa hidup bukan tentang berlebih-lebihan, tetapi tentang keberkahan.

Allah ﷻ juga menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan.” (An-Nahl: 90)

Ihsan adalah keindahan dalam berbuat. Ia adalah kelembutan dalam bersikap, ketulusan dalam memberi, dan kesungguhan dalam bekerja. Ramadhan seharusnya membuat kita lebih santun kepada keluarga, lebih jujur dalam amanah, dan lebih peduli kepada tetangga.

Sepuluh hari pertama sering disebut sebagai fase rahmat. Rahmat itu turun seperti hujan yang tak memilih atap. Tetapi hujan hanya bermanfaat bagi tanah yang siap menerimanya. Hati yang keras tak akan menumbuhkan apa-apa, meski disiram berkali-kali.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ampunan itu dekat. Sangat dekat. Namun ia menunggu kesungguhan. Ia menanti hati yang benar-benar ingin pulang.

Kini Ramadhan terus berjalan. Ia tidak menoleh ke belakang. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan yang tak akan terulang. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita—kesempatan terakhir untuk memperbaiki yang retak, melunasi yang tertunda, dan memeluk ampunan yang terbuka.

Jika sepuluh hari pertama belum maksimal, jangan putus asa. Ramadhan masih memberi ruang. Perbanyak doa. Panjangkan sujud. Lembutkan kata. Ringankan tangan untuk bersedekah. Karena yang dinilai bukan kesempurnaan, tetapi kesungguhan.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan tentang seberapa meriah kita memulainya, tetapi seberapa dalam ia meninggalkan bekas di hati. Ia bukan sekadar bulan ibadah, melainkan bulan perubahan.

Semoga ketika Ramadhan benar-benar pamit nanti, ia tidak meninggalkan kita dalam keadaan yang sama.

Semoga ia pergi sambil membawa dosa-dosa kita, dan meninggalkan takwa di dalam dada.

Karena yang paling indah dari Ramadhan bukanlah datangnya, melainkan perubahan yang ia tumbuhkan.

Kontributor / Penulis : M. Said