MALANG lintasjatimnews – Suasana hening menyelimuti ruang sidang di Gedung GKB IV lantai satu Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Detik jam terdengar lirih, seakan ikut menahan napas bersama seorang perempuan yang duduk tegak dengan setumpuk naskah ilmiah di hadapannya. Dialah Maftuhah, yang selama bertahun-tahun menenun sabar, menyulam doa, dan merajut mimpi dalam lembar demi lembar disertasinya.
Ujian tertutup yang ia jalani bukan sekadar forum akademik. Ia adalah muara dari perjalanan panjang yang sering kali sunyi. Di balik presentasi yang runtut dan jawaban yang tenang, tersimpan malam-malam panjang yang ditemani secangkir kopi dan doa yang berulang.
Ada kegelisahan yang tak selalu bisa diceritakan, juga keyakinan yang terus dipupuk meski ragu kerap mengetuk.
Ketika pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari para penguji, Maftuhah menjawab dengan suara mantap. Tatapannya teduh, sesekali mencatat poin penting sebelum memberikan penjelasan yang argumentatif.
Namun jauh di dasar hatinya, ada getar yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
Getar itu bukan karena ia tak siap, melainkan karena ia tahu : inilah gerbang yang selama ini ia tuju. Inilah detik yang dulu hanya berani ia bisikkan dalam doa panjang selepas sujudnya.
“Ujian ini bukan hanya tentang teori dan metodologi. Ini adalah ujian kesetiaan pada proses. Bertahun-tahun saya belajar menerima revisi, kritik, bahkan keraguan diri sendiri,” ujar Maftuhah usai sidang, dengan suara yang masih bergetar.
Ujian itu menjadi saksi dari ketekunan yang tak terlihat banyak mata. Menyelami literatur, merumuskan gagasan, memperbaiki naskah berkali-kali, hingga memastikan setiap data dan analisis berdiri kokoh secara ilmiah—semuanya bermuara di ruang sidang tersebut.
Dan ketika akhirnya sidang mencapai penghujungnya, ketika keputusan dibacakan dengan kalimat-kalimat yang meneguhkan, sesuatu runtuh perlahan dalam dirinya. Bukan runtuh karena kalah, melainkan karena lega yang tak lagi terbendung. Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.
Tangisan itu bukan tanda kelemahan, melainkan bahasa jiwa yang tak lagi sanggup diterjemahkan oleh kata. Ia adalah akumulasi dari lelah yang dipeluk sabar. Ia adalah gema dari doa-doa orang tua yang tak pernah putus, dukungan keluarga yang setia, serta bimbingan para dosen yang tulus menuntun.
“Saya teringat wajah orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan. Air mata ini adalah rasa syukur. Allah menguatkan saya di setiap fase,” tuturnya sambil menyeka pipi.
Bagi sebagian orang, ujian tertutup mungkin hanya satu tahapan akademik. Namun bagi Maftuhah, ia adalah pembuktian bahwa mimpi yang dirawat dengan kesungguhan akan menemukan jalannya. Ia menjadi saksi bahwa perempuan dengan tekad kukuh mampu melampaui batas dirinya sendiri.
Di sudut ruang itu, ia sempat menunduk, melafalkan syukur dalam lirih. Perjalanan memang belum usai. Masih ada ujian terbuka dan pengabdian yang lebih luas menanti.
Namun hari itu, ia mengizinkan dirinya merayakan kemenangan kecil yang sangat berarti.
Air mata di ujung doa itu bukan akhir. Ia adalah awal dari babak baru—babak pengabdian yang lebih luas, langkah yang lebih mantap, dan tanggung jawab yang lebih besar.
Dari ruang sidang yang hening itu, lahir kembali seorang Maftuhah yang lebih kuat, lebih matang oleh proses, dan lebih teduh dalam syukur. Sebab di ujung doa yang panjang, selalu ada cahaya yang menanti.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








