SURABAYA lintasjatimnews.com – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan ruhani yang menguji kesungguhan hati. Dalam setiap detik puasa, tersimpan doa-doa yang melangit, harapan-harapan yang mengetuk pintu rahmat Allah Swt.
Di antara doa yang patut kita panjatkan adalah: “Ya Allah, bantulah kami untuk berpuasa, berdoa, menundukkan pandangan, dan menjaga lidah kami. Ya Allah, ampunilah semua dosa kami, hilangkanlah semua kekhawatiran kami, lunasilah semua hutang kami, sembuhkanlah semua orang sakit kami, bimbinglah semua anak-anak kami, dan berikanlah kesuksesan kepada semua orang tua kami.”
Permohonan ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cermin kebutuhan terdalam manusia. Sebab sejatinya, kita tak pernah mampu beribadah tanpa pertolongan-Nya.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Namun takwa tidak lahir otomatis. Ia membutuhkan pertolongan Allah, kesungguhan doa, serta kesadaran diri untuk memperbaiki sikap lahir dan batin.
Menundukkan pandangan dan menjaga lisan adalah bagian penting dari puasa yang berkualitas.
Rasulullah Saw bersabda “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Muhammad al-Bukhari)
Hadis ini mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar ritual fisik, melainkan latihan pengendalian diri. Lidah yang terjaga dari dusta, ghibah, dan caci maki adalah bukti bahwa puasa telah menyentuh hati.
Doa memohon ampunan juga menjadi inti ibadah Ramadan. Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Karena itu, kita memohon agar Allah menghapus dosa-dosa, mengangkat kegelisahan, dan melapangkan urusan.
Dalam Al-Qur’an Allah menjanjikan “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Kekhawatiran hidup, beban hutang, sakit yang diderita, dan masa depan anak-anak kita—semuanya berada dalam kuasa-Nya. Maka doa adalah senjata orang beriman.
Dalam hadis lain Rasulullah Saw bersabda “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Muhammad al-Tirmidhi)
Imam Al-Ghazali dalam mutiara hikmahnya mengingatkan
“Jika Allah menggerakkan lisanmu untuk berdoa, maka ketahuilah bahwa Dia hendak memberimu.”
Kata-kata ini mengandung harapan besar. Bahwa setiap doa yang terucap bukanlah kebetulan. Ia adalah panggilan dan sekaligus undangan dari Allah agar kita semakin dekat kepada-Nya.
Ramadan juga menjadi momentum memohon kebaikan bagi keluarga. Kita ingin anak-anak tumbuh dalam bimbingan iman, orang tua diberi kesuksesan dan keberkahan, serta orang-orang sakit memperoleh kesembuhan.
Semua itu adalah bentuk kepedulian sosial yang lahir dari hati yang bertakwa.
Pada akhirnya, doa ini mengajarkan kerendahan hati. Kita sadar bahwa tanpa pertolongan Allah, puasa hanyalah lapar. Tanpa bimbingan-Nya, hidup hanyalah kelelahan. Dan tanpa ampunan-Nya, kita tak punya harapan keselamatan.
Maka marilah kita perbanyak doa di bulan yang mulia ini. Memohon dengan hati yang khusyuk, air mata yang tulus, dan keyakinan penuh bahwa Allah Maha Mendengar.
Semoga puasa kita melahirkan ketakwaan, doa kita menghadirkan ketenangan, dan hidup kita dipenuhi keberkahan.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Penulis Fathurrahim Syuhadi








