Selamat Hari Kepanduan Sedunia Sampai Indonesia

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Setiap tanggal 22 Februari, dunia memperingati hari kelahiran Sir Robert Stephenson Smith Baden-Powell, tokoh besar yang dikenal sebagai Bapak Kepanduan Dunia. Dari gagasannya, lahir sebuah gerakan pendidikan nonformal yang melampaui batas negara, bahasa, dan budaya.

Kepanduan bukan sekadar aktivitas luar ruang, melainkan sebuah sistem pembinaan karakter yang terstruktur—mendidik generasi muda menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, tangguh, dan berjiwa kepemimpinan.

Sejak perkemahan pertama di Brownsea Island pada 1907, nilai-nilai kepanduan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Baden-Powell merancang metode pendidikan yang menekankan learning by doing, kerja tim, kecintaan pada alam, serta pembentukan moral. Gerakan ini tumbuh menjadi kekuatan global yang membentuk jutaan pemuda dengan semangat persaudaraan dan pengabdian.

Di Indonesia, semangat kepanduan menemukan momentumnya melalui peran Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Beliau tidak hanya menjadi tokoh nasional, tetapi juga simbol kepemimpinan yang bersahaja dan visioner.

Di tangannya, gerakan kepanduan menjadi bagian dari pembangunan karakter bangsa. Pramuka diposisikan sebagai wadah pembinaan generasi muda agar cinta tanah air, berdisiplin, serta memiliki rasa tanggung jawab sosial.

Dalam lingkungan Muhammadiyah, nilai kepanduan berkembang melalui lahirnya Hizbul Wathan. Di sini, kepanduan tidak hanya membentuk keterampilan fisik dan sosial, tetapi juga memperkuat aqidah dan akhlak.

Teladan sejati gerakan ini adalah Jenderal Soedirman, yang dikenal sebagai Bapak Pandu Hizbul Wathan.

Sebagai kader Muhammadiyah, beliau membuktikan bahwa kepanduan adalah kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin tangguh.
Jenderal Soedirman bukan hanya panglima perang yang memimpin perjuangan dengan strategi gerilya dalam kondisi sakit, tetapi juga produk pendidikan karakter yang kokoh.

Nilai-nilai disiplin, keberanian, kesederhanaan, dan keimanan yang tertanam sejak menjadi pandu membentuk integritas kepemimpinannya. Karena itu, setiap 20 Desember diperingati sebagai Hari Pandu Hizbul Wathan—sebuah momentum refleksi bahwa kepanduan adalah gerakan pendidikan yang melahirkan pejuang dan pemimpin.

Kepanduan sejatinya bukan sekadar seragam, atribut, atau barisan upacara. Ia adalah jiwa pengabdian. Seragam hanyalah simbol, sementara ruhnya terletak pada komitmen untuk menolong sesama, membela kebenaran, serta setia pada nilai-nilai moral dan spiritual.

Kepanduan melatih generasi muda untuk siap memimpin sekaligus siap dipimpin. Ia mendidik untuk kuat dalam prinsip namun lembut dalam sikap.

Di era modern yang penuh tantangan—krisis moral, individualisme, serta derasnya arus digitalisasi—kepanduan tetap relevan. Dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Kepanduan menjawab kebutuhan itu melalui pembiasaan nilai : kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan ketahanan diri.

Dari dunia untuk Indonesia, semangat kepanduan menjadi jembatan peradaban. Ia menyatukan nilai global dan kearifan lokal. Di Indonesia, ia berpadu dengan semangat kebangsaan; di Muhammadiyah, ia menyatu dengan penguatan aqidah dan akhlak mulia.

Kepanduan adalah gerakan pendidikan karakter yang menyiapkan masa depan berkemajuan.
Maka, memperingati Hari Kepanduan Sedunia bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi meneguhkan komitmen.

Bahwa kepanduan adalah jalan pembinaan generasi. Bahwa kepanduan adalah jiwa pengabdian. Dan bahwa dari tangan-tangan para pandu hari ini, masa depan bangsa sedang dipersiapkan.

Penulis Fathurrahim Syuhadi