SURABAYA lintasjatimnews.com – Allah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Surah An-Nisa ayat 40
“Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.”
Ayat ini menanamkan optimisme: tidak ada kebaikan yang hilang. Bahkan sekecil zarrah—sesuatu yang nyaris tak terlihat—tetap dicatat dan dibalas.
Kisah tentang semut yang membawa setetes air ketika Ibrahim dibakar oleh Namrud mengajarkan tentang keberpihakan moral.
Secara rasional, setetes air itu mustahil memadamkan kobaran api besar. Namun semut itu tidak sedang mengukur hasil—ia sedang menunjukkan posisi : berada di pihak kebenaran.
Ketika diejek bahwa usahanya sia-sia, semut menjawab bahwa ia hanya ingin Allah melihat ia berpihak pada Nabi Ibrahim. Inilah makna terdalam dari amal : bukan sekadar dampaknya, tetapi keikhlasan dan keberpihakan kepada yang benar.
Allah kembali menegaskan dalam Surah Ar-Rahman ayat 60 “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”
Ini adalah hukum ilahi. Kebaikan melahirkan kebaikan.
Boleh jadi balasan itu berupa pahala di akhirat, ketenangan hati, pertolongan tak terduga, atau keberkahan hidup.
Pelajaran untuk Kita :
Pertama, Jangan meremehkan amal kecil.
Kedua, Senyum, membantu, menenangkan hati orang lain—semua bernilai.
Tiga, Jangan menunda kebaikan karena merasa kecil.
Empat, Allah melihat niat sebelum melihat hasil.
Lima, Berpihaklah kepada kebenaran meski sendirian.
Enam, Nilai seseorang bukan pada besar kecilnya kontribusi, tetapi pada keteguhan sikapnya.
Tujuh, Lakukan kebaikan bukan demi pujian, tetapi demi ridha Allah.
Dalam kehidupan sosial, organisasi, maupun dakwah—termasuk dalam gerakan kepanduan dan kaderisasi yang selama ini Anda tekuni—nilai ini sangat relevan.
Kadang kerja-kerja pembinaan terasa kecil dan tidak langsung terlihat hasilnya. Namun setiap bimbingan, setiap nasihat, setiap tulisan yang menginspirasi, adalah “setetes air” yang Allah catat.
Karena itu, teruslah menebar kebaikan.
Boleh jadi dunia tidak menghitungnya.
Tapi Allah menghitungnya dengan presisi yang sempurna. Dan di sisi-Nya, tidak ada satu pun zarrah kebaikan yang terlewat.
Penulis Fathurrahim Syuhadi








