Ketika Menghakimi Berubah Menjadi Introspeksi

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Dalam kehidupan sosial, kita sering tergoda untuk cepat menilai dan menyimpulkan kesalahan orang lain. Padahal, tidak semua yang tampak salah di mata kita sepenuhnya buruk di hadapan Allah.

Ada latar belakang, ada niat tersembunyi, ada perjuangan batin yang mungkin tak kita ketahui. Karena itu, bijaklah sebelum menghakimi. “Ambillah sisi baiknya, sebab fitrah manusia pada dasarnya adalah kebaikan”.

Allah Swt menegaskan dalam QS. Al-Isra’ ayat 7 bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.”

Ayat ini memberi pesan bahwa kebaikan adalah jalan kembali kepada diri, kepada jiwa yang bersih. Bahkan dalam QS. Ar-Rum/30:30, Allah berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah—yakni cenderung kepada kebenaran dan kebajikan. Jika ada penyimpangan, seringkali itu karena lingkungan, tekanan hidup, atau kelemahan sesaat, bukan karena ia sepenuhnya jahat.
Rasulullah Swt pun mengingatkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadis ini memperjelas bahwa dasar manusia adalah suci dan baik. Maka ketika seseorang melakukan kesalahan, janganlah kita serta-merta menutup pintu maaf dan empati. Bisa jadi ia sedang berjuang melawan dirinya sendiri.
Ada kecenderungan manusia ingin menjadi “hakim” bagi sesamanya.

Padahal, manusia itu seharusnya bertuhan, bukan berperan sebagai Tuhan. Mengambil peran Tuhan dengan menghakimi tanpa ilmu, tanpa rahmah, dan tanpa keadilan adalah bentuk kesombongan tersembunyi. Allah-lah sebaik-baik Hakim.

Rasulullah Saw juga bersabda
“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Imam Muslim)

Pesan ini begitu kuat. Alih-alih membuka dan memperbesar kesalahan orang lain, Islam justru mengajarkan untuk menjaga kehormatan sesama. Sebab setiap kita memiliki cela yang mungkin belum terlihat orang lain.

Buya Hamka pernah menulis dengan indah
“Jangan lekas menyalahkan orang lain sebelum engkau memeriksa dirimu sendiri. Sebab bisa jadi kesalahan yang engkau lihat itu adalah cermin dari kekuranganmu.”

Mutiara hikmah ini mengajak kita untuk lebih banyak bercermin daripada menunjuk. Introspeksi adalah jalan menuju kebijaksanaan. Ketika kita sibuk membenahi diri, energi untuk menghakimi orang lain akan berkurang dengan sendirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, mari biasakan untuk bertanya sebelum menyimpulkan. Mungkin seseorang bersikap keras karena sedang terluka. Mungkin ia tampak lalai karena sedang diuji berat. Kita tidak pernah benar-benar tahu keseluruhan cerita hidup orang lain.
Sertakan Allah di mana pun dan kapan pun.

Saat ingin menilai, ingatlah bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati.
Saat ingin menyalahkan, ingatlah bahwa kita pun tak luput dari salah. Saat ingin menghukum dengan kata-kata, ingatlah bahwa lisan kita akan dimintai pertanggungjawaban.

Karena itu, mari belajar menahan diri. Belajar melihat sisi baik. Belajar memaknai bahwa manusia pada dasarnya diciptakan untuk kebaikan. Jangan sepenuhnya menghakimi bahwa ia salah. Bisa jadi ia sedang berproses menjadi lebih baik—sebagaimana kita pun sedang berproses setiap hari.

Semoga Allah Swt menuntun kita untuk lebih lembut dalam menilai, lebih dalam dalam memahami, dan lebih jujur dalam mengintrospeksi diri.

Penulis Fathurrahim Syuhadi