LAMONGAN lintasjatimnews – Di pesisir utara Kabupaten Lamongan, tepatnya di SMA IT Al Azhar Sedayulawas Brondong, kata-kata tidak sekadar dirangkai menjadi kalimat. Ia diasah, dihidupkan, dan diterbangkan menjadi gagasan yang bernyawa. Melalui kegiatan ekstrakurikuler retorika, sekolah ini menghadirkan ruang belajar yang menumbuhkan nalar, keberanian, serta keindahan berpikir para siswanya.
Retorika di sekolah ini bukan sekadar latihan berbicara di depan umum. Ia menjadi lentera pikiran, jembatan antara ilmu, iman, dan ekspresi diri. Di bawah bimbingan Maftuhah, M.Pd., kegiatan ini menjelma sebagai laboratorium intelektual yang hangat dan manusiawi. Para siswa tidak dipaksa menjadi pandai berbicara, melainkan diajak mengenali suara batin mereka sendiri.
“Retorika bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, tetapi siapa yang paling jujur gagasannya. Anak-anak kami ajak memahami sebelum berbicara, merasakan sebelum menyampaikan,” ujar Maftuhah saat ditemui di sela kegiatan latihan.
Pendekatan yang diterapkan menekankan pada proses. Siswa diberi ruang untuk mencoba, bahkan untuk salah, tanpa rasa takut. Dari ruang aman itulah tumbuh rasa percaya diri dan disiplin intelektual. Retorika dipahami sebagai seni berpikir yang membebaskan, bukan sekadar teknik berbicara.
Salah satu siswa yang bersinar dari kegiatan ini adalah Aznikhatin Matsnah, yang akrab disapa Niha. Siswi kelas X tersebut dikenal memiliki kemampuan bertutur dalam tiga bahasa: Arab, Indonesia, dan Inggris. Putri dari Mukhlis Mudzakir itu menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga jendela peradaban.
Dalam Bahasa Arab, Niha menelusuri nilai-nilai spiritual dan kebijaksanaan klasik. Dalam Bahasa Indonesia, ia meneguhkan identitas kebangsaan dan rasa kebersamaan. Sementara melalui Bahasa Inggris, ia membuka cakrawala global dengan percaya diri dan nalar kritis.
“Saya belajar bahwa setiap bahasa punya ruhnya sendiri. Ketika kita memahaminya, kita bukan hanya berbicara, tetapi juga belajar menghargai cara pandang orang lain,” ungkap Niha dengan penuh semangat.
Kemampuan multilingual yang dimiliki Niha bukan sekadar prestasi akademik, melainkan hasil dari proses pembinaan yang konsisten. Tiga bahasa itu saling melengkapi, membentuk struktur berpikir yang lentur namun tajam. Ia menjadi simbol bahwa pendidikan yang menyentuh akal dan hati akan melahirkan generasi yang siap menghadapi perubahan zaman.
Ekstrakurikuler retorika di SMA IT Al Azhar Sedayulawas Brondong membuktikan bahwa melatih kecerdasan tidak selalu melalui angka dan rumus. Kata-kata pun mampu menajamkan logika, menumbuhkan empati, dan menguatkan keberanian moral.
Ketika siswa belajar berbicara, mereka sesungguhnya sedang belajar berpikir. Ketika mereka belajar mendengar, mereka sedang menumbuhkan kebijaksanaan.
“Harapan kami sederhana, anak-anak berani menyampaikan kebenaran dan kebaikan dengan cara yang santun dan bermakna,” tambah Maftuhah.
Dari ruang retorika itulah benih peradaban ditanam. Dari kata yang jujur lahir pikiran yang jernih. Dari pikiran yang jernih tumbuh tindakan yang bermakna. Dan dari proses itulah masa depan perlahan disusun—oleh generasi muda seperti Niha, yang menjadikan bahasa sebagai sayap untuk terbang lebih tinggi.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








