Butiran Emas di Papan Tulis, Teks Prosedur yang Menghidupkan Kelas

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews.com – Suasana pagi menyelinap lembut melalui jendela kelas yang terbuka. Di ruang itulah pembelajaran Bahasa Indonesia menjelma menjadi taman gagasan yang riuh dan bermakna. Bersama Guru Bahasa Indonesia kelas XII, Maftuhah, M.Pd. mengajak para siswa merasakan bahwa bahasa bukan sekadar teori, melainkan jembatan peradaban yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Dengan dukungan Kepala Sekolah Wiji Bahari, S.Pd., suasana belajar terasa hidup dan menyenangkan. Sekolah menjadi samudra ilmu tempat siswa berlayar mencari makna. Salah satu momen berkesan datang ketika materi teks prosedur diangkat melalui tema sederhana : jagung sebagai makanan pengganti nasi.

Salma Priovimin Sutensita, siswi kelas XII, mengaku pelajaran hari itu membuka cakrawala berpikirnya. “Kami tidak hanya belajar menyusun kalimat perintah dan konjungsi temporal, tetapi juga memahami makna ketahanan pangan dan kearifan lokal,” ujarnya dengan antusias.

Di tangan Maftuhah, teks prosedur tidak lagi terasa kaku. Ia menjelma sebagai latihan berpikir runtut dan cermat. Siswa diminta menetapkan tujuan terlebih dahulu: membuat nasi jagung yang pulen dan bergizi sebagai alternatif nasi putih.

Dari tujuan itulah mereka menuliskan bahan-bahan sederhana seperti jagung pipil kering, air, dan sedikit garam. Kemudian langkah-langkah disusun secara sistematis : mencuci jagung hingga bersih, merendam beberapa jam, mengukus hingga setengah matang, menambahkan air panas, lalu mengukus kembali sampai merekah sempurna.

Setiap kalimat imperatif dipilih dengan teliti. Setiap kata penghubung waktu ditempatkan secara tepat. Kerapian bahasa menjadi cermin kejernihan berpikir. Diskusi kelas berlangsung aktif; siswa saling memberi masukan, tertawa, dan bertepuk tangan saat presentasi. Kreativitas tumbuh seiring kebebasan berekspresi dalam menyajikan teks.

Maftuhah menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual seperti ini bertujuan membangun kesadaran kritis.
“Bahasa harus menyentuh kehidupan. Ketika siswa menulis tentang jagung, mereka tidak hanya belajar struktur teks, tetapi juga memahami isu pangan, kesehatan, dan potensi lokal,” ungkapnya.

Kepala sekolah Wiji Bahari turut mengapresiasi pendekatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran yang bermakna adalah yang mampu menumbuhkan karakter sekaligus kecakapan akademik. “Kami mendukung guru untuk berinovasi agar kelas menjadi ruang dialog, bukan sekadar ruang hafalan,” tegasnya.

Tema jagung dipilih bukan tanpa alasan. Selain mudah dijumpai di lingkungan sekitar, jagung menyimpan nilai gizi dan potensi sebagai alternatif pangan. Dari butiran emas itulah siswa belajar tentang keberanian mencoba hal baru dan pentingnya diversifikasi makanan.

Pembelajaran hari itu membuktikan bahwa teks prosedur dapat menjadi wahana pendidikan karakter. Dari langkah-langkah sederhana mengolah jagung, siswa belajar ketekunan, kesabaran, dan ketelitian. Dari diskusi dan presentasi, mereka belajar percaya diri dan menghargai pendapat orang lain.

Di papan tulis yang dipenuhi rangkaian kalimat terstruktur, terselip harapan besar. Bahwa generasi muda tidak hanya pandai menulis, tetapi juga mampu berpikir kritis dan peduli pada lingkungannya.

“Ketika siswa menulis tentang jagung sebagai pengganti nasi, mereka sebenarnya sedang belajar tentang kemandirian pangan dan keberanian berpikir alternatif. Dari teks prosedur yang runtut, lahir karakter yang tertib dan kreatif,” tutur Maftuhah.

Butiran jagung mungkin kecil, namun di ruang kelas itu ia menjelma cahaya. Di antara kapur dan tinta, para siswa tidak hanya menulis cara membuat nasi jagung, tetapi juga menata masa depan dengan kalimat-kalimat yang penuh kesadaran dan harapan.

Reporter : Fathurrahim Syuhadi