LAMPNGAN lintasjatimnews – Di tepian Jalan Raya Deandles, tepat di sebelah timur Masjid Jami’ Pambon Kecamatan Brondong berdiri sebuah usaha sederhana yang tak pernah benar-benar sepi dari aktivitas. Gemericik air, semprotan hidrolise, busa sabun, dan deru kendaraan yang datang silih berganti menjadi irama harian di tempat itu. Di sanalah mimpi seorang anak muda dirawat—bukan dengan retorika, tetapi dengan kerja nyata.
Dialah Muhammad Iqbal, yang lebih dikenal sebagai Iqbal Kachina. Lulusan STIT Muhammadiyah Paciran ini memilih jalan hidup yang tidak selalu dilirik generasi muda seusianya. Ia tidak duduk di balik meja kantor berpendingin ruangan, melainkan berdiri tegak di antara percikan air dan panas matahari, membersihkan kendaraan satu demi satu dengan kesabaran yang jarang dipamerkan.
Usahanya meliputi cuci mobil dan motor hidrolise, poles kendaraan, cuci karpet, hingga jual beli kendaraan. Sekilas tampak biasa. Namun bagi Maftuhah sebagai kakaknya, ini bukan sekadar tempat usaha—ini adalah ruang pembuktian. Ruang di mana keberanian diuji, mental ditempa, dan karakter dibangun.
Di era ketika sebagian anak muda tergoda pada kenyamanan instan, Iqbal justru memilih jalan basah—secara harfiah dan maknawi. Ia memulai pagi dengan menyapa pelanggan, memastikan setiap kendaraan yang datang kembali dalam keadaan bersih, wangi, dan mengilap. Setiap lekuk bodi mobil dipoles dengan ketelitian. Setiap noda karpet dicuci hingga bersih. Air yang mengalir dari selang hidrolise itu seolah menjadi simbol perjuangannya: deras, konsisten, dan tak mudah berhenti.
Sebagian orang mungkin memandang usaha ini sederhana. Namun di tangan pemuda yang visioner, tempat ini menjadi laboratorium kehidupan. Ia belajar manajemen waktu, belajar membangun relasi, belajar menjaga kepercayaan pelanggan, dan belajar membaca peluang. Saat memperluas layanan hingga jual beli kendaraan, ia sedang melatih keberanian mengambil risiko dan memperluas jaringan usaha.
“Bagi saya, Iqbal tidak sekadar mencuci kendaraan. Ia sedang membangun mental tangguh. Ia sedang memoles masa depannya sendiri dengan kerja keras dan kesabaran,” ungkap Maftuhah, M.Pd dosen di STITM Paciran
Letaknya yang berdekatan dengan masjid seakan menjadi pengingat bahwa kerja dan doa harus berjalan berdampingan. Setiap kendaraan yang datang adalah amanah. Setiap transaksi adalah kepercayaan yang harus dijaga. Integritas menjadi fondasi utama yang ia pegang.
Iqbal memulai bukan dari kemewahan, melainkan dari keberanian. Keberanian membuka usaha di pinggir jalan. Keberanian menghadapi hari-hari sepi pelanggan. Keberanian mengembangkan layanan di tengah persaingan. Ia memahami bahwa rezeki tidak hanya ditunggu, tetapi dijemput dengan ikhtiar.
“Saya bangga karena ia tidak gengsi memulai dari bawah. Ia mengajarkan bahwa sukses bukan soal cepat terlihat, tetapi soal konsisten bertahan dan terus berkembang,” tambah Maftuha MPd ini
Di tengah suara klakson kendaraan dan lantunan adzan yang berkumandang, tumbuh narasi lain tentang kesuksesan. Bukan gemerlap kota besar, melainkan kesungguhan yang berakar di desa. Bukan popularitas, melainkan profesionalisme yang dirawat setiap hari.
Usaha cuci mobil dan motor hidrolise itu mungkin tampak sederhana, tetapi di sanalah nilai kerja keras, kejujuran, dan pelayanan ditempa tanpa henti. Anak muda seperti Iqbal Kachina menjadi pengingat bahwa peluang tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Ia bisa tumbuh di tepi jalan, selama ada keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk merawatnya.
“Di tepi Jalan Deandles itu, mimpi sedang tumbuh. Kelak ia akan menjadi pohon rindang yang memberi inspirasi—bahwa kesuksesan sejati selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati,” pungkas Maftuhah MPd
Reporter Fathurrahim Syuhadi








