BOJONEGORO lintasjatimnews – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang membentuk pola hidup generasi muda, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Tantangan inilah yang menjadi sorotan Ahmad Syafi’i, Sekretaris Kwarda HW Bojonegoro, dalam refleksinya tentang peran pelatih HW di era digital.
Menurut Ahmad Syafi’i, HW memiliki tugas strategis dalam menumbuhkan potensi peserta didik, terutama kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial. Sebagai wadah pendidikan di luar sekolah, HW tidak hanya menjadi ruang aktivitas fisik semata, tetapi juga laboratorium pembentukan karakter berbasis nilai-nilai Islam.
“Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan punya tugas menumbuhkan potensi peserta didik, baik kecerdasan emosional maupun kecerdasan sosial. Di era digital ini, tugas itu terasa lebih berat, tetapi justru semakin penting,” tegasnya.
Ia menjelaskan, anak-anak remaja masa kini mengalami pergeseran signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Cara belajar, bergaul, berkomunikasi, hingga menyelesaikan masalah kini sangat dipengaruhi internet, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi digital lainnya. Kemudahan akses informasi membuat generasi sekarang serba instan, namun di sisi lain berpotensi melemahkan daya tahan mental dan kedalaman interaksi sosial.
“Anak-anak sekarang lebih suka berinteraksi di dunia maya daripada bertatap muka. Mereka mulai malas berlatih upacara, PBB, dan kegiatan fisik lainnya secara berkala. Cepat bosan, mudah tersinggung, dan kurang menghargai perbedaan pendapat. Ini menjadi tantangan nyata bagi pelatih HW,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut HW untuk berpikir ulang agar tetap relevan dengan perubahan zaman. Materi-materi kepanduan dan model kegiatan harus mampu menyesuaikan karakter generasi digital tanpa menghilangkan ruh gerakan. Keberadaan HW, lanjutnya, harus menjadi solusi konkret dalam membentuk karakter peserta didik.
“Hizbul Wathan harus mengimplementasikan tauhid, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah sebagai orientasi mendasar dan paradigma kegiatan. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus menjadi kode etik kepanduan yang berlandaskan tauhid dan diwujudkan dalam perilaku kehidupan,” jelas Ahmad Syafi’i.
Ia menekankan bahwa nilai tauhid harus menjadi fondasi seluruh aktivitas kepanduan. Dari situ lahir sikap ibadah yang konsisten, akhlak karimah dalam pergaulan, serta kemampuan bermuamalah secara bijak di tengah masyarakat modern. Pendidikan kepanduan tidak boleh berhenti pada aspek seremonial atau teknis semata.
“Tidak cukup membekali peserta didik dengan tepuk-tepuk, kemampuan kognitif, dan keterampilan digital. Yang jauh lebih penting adalah menggarap akhlak dan menghidupkan hati nurani, sehingga tumbuh karakter simpati, empati, serta kemampuan mengelola kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual,” tegasnya.
Ahmad Syafi’i juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas pelatih. Di era digital, pelatih HW tidak hanya harus memahami teknologi, tetapi juga mampu mengambil peran strategis dalam menyeimbangkan kecerdasan teknologi dengan kecerdasan emosional dan spiritual peserta didik.
“Pelatih HW harus terlatih dan adaptif. Mereka perlu memahami dunia digital yang digeluti anak-anak, namun tetap mampu menjadi pembimbing yang menanamkan nilai, bukan sekadar pengawas kegiatan,” tambahnya.
Ia berharap HW terus berinovasi dalam metode pelatihan, memadukan pendekatan digital dengan kegiatan lapangan yang membangun kedisiplinan, kebersamaan, dan kepemimpinan. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan kuat secara spiritual.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat,
Pesan Ahmad Syafi’i menjadi pengingat bahwa peran pelatih HW bukan sekadar mengajarkan keterampilan, melainkan membentuk manusia berkarakter. Sebab pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas akhlak generasinya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








