LAMONGAN lintasjatimnews – Suaidi, S.Pd.I., Gr., M.Pd. lahir di Lamongan pada 25 April 1987. Tumbuh di lingkungan pesisir utara Jawa Timur, ia ditempa oleh kultur religius dan tradisi keilmuan yang kuat. Sejak usia dini, pendidikan bukan sekadar kewajiban formal, melainkan jalan pengabdian yang kelak membentuk identitas akademik dan kepemimpinannya.
Pendidikan dasar ditempuh di MIM 06 Brondong. Di lembaga inilah fondasi keislaman dan kecintaan terhadap ilmu mulai bersemi. Selanjutnya, ia melanjutkan ke MTsM 25 Brondong, tempat yang kemudian hari menjadi ruang pengabdian profesionalnya.
Pendidikan menengah atas dijalani di MAM 01 Pondok Pesantren Karangasem Paciran, sebuah institusi yang memadukan tradisi pesantren dengan sistem pendidikan modern.
Lingkungan ini membentuk karakter intelektualnya: disiplin dalam berpikir, kokoh dalam akhlak, dan terbuka terhadap dinamika zaman.
Komitmen terhadap pengembangan ilmu berlanjut ke jenjang perguruan tinggi di STIT Muhammadiyah Paciran, tempat ia menempuh pendidikan strata satu (S1). Di bangku akademik inilah minatnya terhadap manajemen dan kepemimpinan pendidikan semakin terasah. Ia memahami bahwa tantangan pendidikan Islam kontemporer bukan hanya pada aspek kurikulum, tetapi juga tata kelola lembaga, kualitas sumber daya manusia, dan inovasi pembelajaran.
Kesungguhan dalam meningkatkan kapasitas akademik mengantarkannya meraih gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Pencapaian ini bukan sekadar simbol akademik, melainkan refleksi dari komitmen berkelanjutan terhadap pembelajaran sepanjang hayat.
Dalam perspektif akademik, peningkatan kualifikasi ini memperkuat kompetensinya dalam merumuskan kebijakan berbasis data, mengembangkan budaya mutu, serta membangun ekosistem sekolah yang adaptif terhadap perubahan.
Sebagai Kepala MTsM 25 Brondong, Suaidi mempraktikkan kepemimpinan transformatif. Ia memandang sekolah sebagai pusat pembentukan karakter dan literasi, bukan sekadar institusi administratif. Di bawah kepemimpinannya, orientasi pengembangan madrasah diarahkan pada peningkatan profesionalisme guru, penguatan budaya religius, serta integrasi teknologi dalam proses pembelajaran. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua sebagai pilar kemajuan lembaga.
Dalam kehidupan pribadi, Suaidi adalah sosok keluarga yang harmonis. Ia menikah dengan Maftuhah M.Pd, yang turut menjadi mitra intelektual dan spiritual dalam perjalanan hidupnya. Dari pernikahan tersebut lahir seorang putra, Aksa Pramudya Aidy, yang menjadi sumber inspirasi sekaligus motivasi untuk terus menorehkan karya dan pengabdian terbaik.
Keseimbangan antara peran domestik dai profesional menjadi landasan etis dalam kepemimpinannya.
Secara konseptual, perjalanan Suaidi mencerminkan model pendidik reflektif—yakni individu yang tidak berhenti pada capaian formal, tetapi terus melakukan evaluasi diri dan inovasi praksis. Ia meyakini bahwa kualitas lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi diri dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan institusi.
Dalam konteks pendidikan Islam di Lamongan, kehadiran Suaidi merepresentasikan generasi muda akademisi yang berpijak pada tradisi, namun berpandangan progresif. Dengan latar pendidikan yang konsisten di lingkungan Muhammadiyah, ia membawa semangat tajdid—pembaruan—dalam tata kelola madrasah.
Perjalanan akademik dan profesional Suaidi menunjukkan bahwa kepemimpinan pendidikan lahir dari proses panjang pembentukan karakter, integritas, dan ketekunan ilmiah. Dari Brondong, ia meneguhkan komitmen bahwa pendidikan adalah cahaya—dan tugas seorang pendidik adalah memastikan cahaya itu terus menyala, menerangi generasi demi generasi.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








