Lamongan Berpeluang Jadi Pilot Project Pembelajaran Koding SPRIX Jepang

Listen to this article

LAMONGAN Lintasjatimnews – Kabupaten Lamongan berpeluang menjadi daerah percontohan (pilot project) pembelajaran dan pengukuran kemampuan koding (programming) yang dikembangkan perusahaan pendidikan global asal Jepang, SPRIX. Peluang itu mencuat setelah Direktur Global SPRIX Tokyo, Mr. Shiya Sayu, melakukan kunjungan ke sejumlah satuan pendidikan di Lamongan belum lama ini.

Dalam agenda kunjungannya, Shiya Sayu menyambangi SD SACI dan MAN 1 Lamongan untuk melihat langsung praktik pembelajaran di kelas. Ia juga berdialog dengan jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, didampingi Koji Ueda selaku Direktur SPRIX Indonesia serta Dr. Chusnu Yuli Setyo, M.Pd.

Kunjungan tersebut menjadi momentum penting karena SPRIX tengah menjajaki implementasi program pengukuran kemampuan koding siswa di Indonesia. Selama ini, SPRIX dikenal melalui pengembangan tes matematika berskala internasional. Namun kini, perusahaan berbasis di Tokyo itu mulai memperluas fokusnya pada bidang koding melalui program bertajuk “Koreo”.

“Kami tertarik dengan tawaran Kemendikdasmen untuk ikut serta dalam pengukuran kemampuan koding siswa di Indonesia. Selama ini kami banyak bergerak di bidang matematika, tetapi kini kami juga mengembangkan asesmen koding,” ujar Shiya Sayu saat berdialog di kantor Dinas Pendidikan Lamongan.

Saat ditanya mengenai kemungkinan Lamongan menjadi pilot project, Shiya menyebut peluang tersebut terbuka. “Bisa saja terjadi seperti itu,” jawabnya singkat namun optimistis.

Sementara itu, Koji Ueda menjelaskan bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki alat ukur kemampuan koding siswa yang terstandar secara nasional maupun internasional. Di sinilah SPRIX menawarkan solusi.

“Kemendikdasmen belum memiliki instrumen pengukuran kemampuan koding yang berstandar nasional maupun internasional. SPRIX memiliki alat ukur tersebut. Dengan tes berbasis AI yang kami kembangkan, siswa dapat langsung mengetahui level kemampuan koding atau programming mereka,” terang Koji.

Tes berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) itu dirancang adaptif, sehingga mampu memetakan kemampuan siswa secara lebih akurat dan personal. Hasilnya diharapkan dapat menjadi rujukan bagi sekolah dalam merancang strategi pembelajaran koding secara lebih terarah, terutama di tengah kebijakan pemerintah yang mulai mendorong penguatan literasi digital dan computational thinking sejak jenjang sekolah dasar.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Drs. H. Shodikin, M.Pd., menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh program-program yang selaras dengan kebijakan Kemendikdasmen demi percepatan peningkatan kompetensi siswa.

“Kami sangat mendukung setiap program yang sejalan dengan kebijakan Kemendikdasmen, khususnya yang mendorong peningkatan dan percepatan kompetensi siswa di Kabupaten Lamongan. Jika Lamongan dipercaya menjadi pilot project, tentu ini menjadi peluang besar bagi kemajuan pendidikan daerah,” ungkap Shodikin.

Selain agenda resmi, kunjungan Shiya Sayu juga menyisakan kesan personal. Ini merupakan kunjungan pertamanya ke Lamongan dan kali kedua ke Indonesia. Ia mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat serta kekayaan kuliner Indonesia.

“Saya sangat senang dengan makanan di Indonesia. Cuaca di Lamongan juga terasa hangat dan menyenangkan. Di Tokyo saat ini masih bersalju dan sangat dingin,” tuturnya sambil tersenyum.

Jika terealisasi, penunjukan Lamongan sebagai pilot project tidak hanya akan mengangkat citra daerah di kancah nasional, tetapi juga membuka akses lebih luas bagi siswa untuk mendapatkan pengukuran kemampuan koding berstandar internasional. Sebuah langkah awal menuju generasi Lamongan yang adaptif, kreatif, dan siap bersaing di era digital global.

Kontributor: M. Said