LAMONGAN lintasjatimnews – Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 14 (MIM 14) Pambon Kecamatan Brondong selalu menghadirkan suasana hangat yang berbeda. Di ruang kelas IV yang sederhana itu, pembelajaran Bahasa Indonesia dimulai dengan cara yang tidak biasa. Bukan langsung membuka buku, melainkan menghadirkan senyum, gerak, dan tawa melalui ice breaking yang sederhana namun penuh makna.
Maftuhah, M.Pd., guru Bahasa Indonesia kelas IV, membuka pelajaran dengan pendekatan humanis. Ia mengajak siswa berdiri, melakukan gerakan ringan, tepuk semangat, serta permainan kata yang menggugah antusiasme. Suasana kelas pun berubah menjadi hidup. Anak-anak yang semula tampak mengantuk perlahan menjadi lebih fokus dan bersemangat.
“Ice breaking bukan sekadar selingan,” ujar Maftuhah, M.Pd. “Ini adalah cara untuk menyiapkan hati dan pikiran anak-anak sebelum menerima pelajaran. Ketika suasana hati mereka gembira, proses belajar menjadi lebih mudah dan menyenangkan.”
Baginya, Bahasa Indonesia bukan hanya mata pelajaran, tetapi jembatan untuk menumbuhkan rasa percaya diri, melatih kemampuan berpikir, serta membangun karakter santun dalam berkomunikasi. Dengan suasana yang cair dan penuh tawa, siswa menjadi lebih berani berbicara, membaca dengan penuh penghayatan, dan menulis dengan imajinasi yang berkembang.
Ice breaking yang dilakukan di awal pembelajaran juga menjadi strategi pedagogis untuk menciptakan keterlibatan aktif siswa. Melalui aktivitas sederhana seperti permainan kosakata dan tanya jawab ringan, anak-anak belajar bahwa bahasa adalah alat interaksi yang menyenangkan, bukan beban yang menakutkan. Kelas pun terasa lebih akrab, jarak antara guru dan murid mencair dalam suasana yang harmonis.
Sementara itu, Kepala MIM 14 Pambon Muhaiminah, M.Pd., memberikan apresiasi terhadap inovasi pembelajaran tersebut. Menurutnya, madrasah harus menjadi ruang yang ramah bagi tumbuh kembang anak, baik secara intelektual maupun emosional.
“Kami mendorong guru untuk menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan bermakna,” tutur Muhaiminah, M.Pd. “Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi tempat menumbuhkan karakter. Anak-anak perlu merasa aman dan bahagia agar potensi mereka berkembang optimal.”
Ia menambahkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang santun bertutur, kritis berpikir, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan gagasan. Oleh sebab itu, setiap awal pembelajaran harus dirancang dengan sentuhan yang membangun kesiapan mental siswa.
Di kelas IV MIM 14 Pambon, upaya tersebut mulai menampakkan hasil. Siswa tidak lagi takut salah saat membaca atau berbicara di depan teman-temannya. Mereka belajar memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Guru hadir sebagai pendamping yang membimbing, sementara kepala madrasah memberikan dukungan penuh terhadap inovasi pembelajaran yang dilakukan.
Prolog pembelajaran Bahasa Indonesia ini menjadi gambaran kecil tentang komitmen MIM 14 Pambon dalam membangun budaya literasi yang menyenangkan. Dari ice breaking yang sederhana, lahir energi positif yang mengiringi proses belajar sepanjang hari. Karena di madrasah ini, Bahasa Indonesia diajarkan dengan hati—dan dari hati yang gembira, lahir generasi yang cerdas serta berakhlak mulia.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








