Menyalakan Api Nalar : STITM Paciran Hidupkan Pembelajaran Mahasiswa lewat Problem Based Learning

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Pendidikan tinggi tidak cukup hanya memindahkan pengetahuan dari dosen ke mahasiswa. Lebih dari itu, perguruan tinggi harus menjadi ruang penyemaian nalar, pembentukan karakter, serta latihan keberanian berpikir kritis. Semangat itulah yang kini terus dihidupkan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (STITM) Paciran melalui penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam proses pembelajaran.

Dosen STITM Paciran, Maftuhah, M.Pd., menegaskan bahwa Problem Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini, khususnya dalam menyiapkan mahasiswa sebagai calon pendidik dan intelektual Muslim yang peka terhadap realitas sosial.

“Pendidikan tinggi bukan ruang hafalan, melainkan taman tempat nalar ditumbuhkan dan keberanian berpikir dilatih. Melalui Problem Based Learning, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi diajak berhadapan langsung dengan persoalan nyata yang mereka jumpai dalam kehidupan sosial dan keislaman,” ujar Maftuhah

Menurutnya, PBL menempatkan masalah sebagai pintu masuk pembelajaran. Masalah tidak lagi diposisikan sebagai hambatan, tetapi sebagai sarana untuk menggali pemahaman secara lebih mendalam dan reflektif. Dalam konteks STITM Paciran, problem yang diangkat dekat dengan kehidupan mahasiswa, mulai dari persoalan pendidikan, sosial-keagamaan, hingga dinamika masyarakat pesisir.

Dalam praktiknya, metode ini mengubah wajah kelas secara signifikan. Mahasiswa tidak lagi berperan sebagai pendengar pasif, melainkan menjadi subjek pembelajar yang aktif bertanya, berdiskusi, menganalisis, dan menyusun solusi secara argumentatif.

“Mahasiswa kami dorong untuk bertanya sebelum menjawab, menganalisis sebelum menyimpulkan. Kelas tidak lagi menjadi ruang monolog dosen, tetapi ruang dialog yang hidup. Di situlah api nalar mahasiswa mulai menyala,” tegasnya.

Maftuhah menambahkan, keunggulan PBL tidak semata terletak pada hasil akhir, tetapi pada proses akademik yang dijalani mahasiswa. Diskusi kelompok, perdebatan ilmiah yang santun, serta pengujian argumen menjadi bagian penting dalam membangun tradisi ilmiah di kampus.
Nilai-nilai keislaman seperti musyawarah, adab berdialog, dan tanggung jawab kolektif juga menemukan relevansinya dalam pendekatan ini.

Mahasiswa belajar bahwa perbedaan pandangan bukan ancaman, melainkan rahmat bagi tumbuhnya ilmu pengetahuan.
Lebih jauh, PBL juga menumbuhkan kemandirian belajar. Peran dosen bertransformasi menjadi fasilitator dan penunjuk arah, sementara mahasiswa dilatih mengelola waktu, membagi peran, mencari sumber kredibel, serta mengambil keputusan akademik secara bertanggung jawab.

“Inilah pendidikan yang memerdekakan. Kami tidak ingin sekadar mencetak lulusan, tetapi mendidik manusia yang berilmu, beradab, dan berani berpikir,” ungkap Maftuhah.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa penerapan PBL memiliki tantangan. Tidak semua mahasiswa terbiasa berpikir kritis dan mandiri. Sebagian masih canggung menyampaikan pendapat atau takut melakukan kesalahan. Namun justru di situlah nilai pendidikan diuji.

“PBL mengajarkan bahwa belajar adalah proses jatuh-bangun. Salah dan benar adalah bagian dari perjalanan intelektual. STITM Paciran berkomitmen menjadikan PBL bukan sekadar metode sesaat, tetapi budaya akademik,” tandasnya.

Melalui pembelajaran berbasis masalah, STITM Paciran terus berupaya menyalakan api nalar mahasiswa—api yang tidak membakar, tetapi menerangi; tidak menghapus tradisi, tetapi menghidupkan makna. Dari ruang-ruang kelas sederhana, diharapkan lahir pemikir muda yang cakap secara akademik sekaligus peka terhadap realitas umat dan bangsa.

Jika pendidikan adalah sebuah perjalanan, maka Problem Based Learning menjadi kompasnya. Dan mahasiswa STITM Paciran, dengan langkah-langkah kecil namun pasti, tengah berjalan menuju masa depan yang tercerahkan berbekal ilmu, adab, dan keberanian berpikir.

Reporter Fathurrahim Syuhadi