Menjemput Cahaya di Ujung Kesabaran, Kisah Inspiratif Holidin, S.Pd., M.Pd.

Listen to this article

SEMARANG lintasjatimnews – Hidup tidak selalu menyediakan jalan yang lapang. Namun justru dari lorong-lorong sempit kehidupan, sering lahir pribadi-pribadi tangguh yang ditempa oleh kesabaran dan keyakinan. Holidin, S.Pd., M.Pd. adalah salah satu dari mereka sebuah potret perjuangan yang sunyi, namun penuh makna.

Holidin lahir di Karawang pada 20 Juni 1991, dari keluarga sederhana yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Ayahnya adalah pedagang musiman dengan penghasilan tidak menentu, sementara ibunya mengabdikan diri mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anaknya. Dalam banyak hari, kebutuhan hidup hanya bisa dipenuhi dengan berutang di warung tetangga, yang baru dapat dilunasi ketika dagangan ayahnya laku.

Di balik kesederhanaan itu, sang ayah menyimpan mimpi besar: melihat anak-anaknya tumbuh dengan bekal agama yang kuat melalui pendidikan pesantren. Namun takdir berkata lain. Saat Holidin duduk di kelas lima sekolah dasar, ayahnya wafat di tengah masa ujian akhir. Ia tidak sempat menemani hari-hari terakhir sang ayah karena berada jauh di kota lain. Perpisahan tanpa pamit itu menjadi luka pertama yang kelak membentuk keteguhan jiwanya.

Pasca wafatnya ayah, keluarga bermusyawarah dan memutuskan menitipkan Holidin di Yayasan Yatim Piatu Darul Aitam, Garut. Ia berangkat tanpa diantar ibu, hanya ditemani seorang guru. Sang ibu harus bertahan di kampung halaman, menjaga adik Holidin dan bekerja di pabrik demi kelangsungan hidup keluarga.

Enam tahun di pesantren menjadi masa pembentukan karakter yang berat sekaligus berharga. Kunjungan ibu sangat jarang, bukan karena kurang cinta, melainkan karena keterbatasan biaya.

Saat santri lain dijenguk orang tua mereka, Holidin hanya bisa memandang dari kejauhan. Masa liburan sering dilewati tanpa pulang, atau pulang setahun sekali dengan bantuan guru pesantren.

Rindu dan sepi menjadi teman setia, namun tak pernah memadamkan semangat belajarnya. Justru di pesantren itulah keteguhan hatinya ditempa.

Setelah lulus pada tahun 2009, pimpinan pesantren mempercayakan Holidin untuk mengabdi sebagai khodimul ma’had, mengajar dan membina santri. Pada tahun ketiga pengabdian, ia mendapat izin melanjutkan pendidikan ke STAI Al-Falah Bandung. Kuliah dijalani dalam serba kekurangan—sering kali hanya membawa ongkos transportasi, bahkan menahan lapar dengan meneguk air kran masjid.

Ujian kembali datang. Pada semester empat, Holidin terpaksa menghentikan kuliah karena keterbatasan biaya. Lebih berat lagi, ia harus menelan sindiran dan cemoohan, bahkan dari orang-orang yang dahulu ia jadikan teladan. Ada yang mengatakan bahwa kesempatannya telah habis. Kata-kata itu perlahan memadamkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan.

Harapan baru hadir melalui Siti Julaeha, perempuan yang kelak menjadi pendamping hidupnya. Dengan kesabaran dan keyakinan, sang istri menyalakan kembali api semangat yang hampir padam.

Setelah kelahiran putra pertamanya, Akhtar Nalendra Zavier, Holidin kembali bangkit dan melanjutkan pendidikan di STAI Siliwangi Garut hingga menyelesaikan studi S1 pada tahun 2024.

Perjalanan itu belum berakhir. Dengan dorongan kuat dari keluarga, Holidin melangkah ke jenjang magister. Melalui shalat istikharah, ia menemukan program percepatan S2 melalui RPL di Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang. Meski sempat diliputi keraguan dan kembali dihadang persoalan biaya, pertolongan Allah datang dari arah yang tak disangka—dukungan keluarga, saudara, serta para pembimbing akademik.

Akhirnya, dengan limpahan rahmat Allah Swt., Holidin berhasil menyelesaikan pendidikan magister. Perjalanan hidupnya menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang bagi mereka yang bersabar, berikhtiar, dan terus berharap kepada Allah.

Sebagaimana firman Allah Swt
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Imam Al-Ghazali mengingatkan, “Kesabaran adalah separuh dari iman, dan keyakinan adalah seluruhnya.”
Dalam kesabaran itulah manusia diuji, dan dalam keyakinan itulah pertolongan Allah menemukan jalannya.

Kisah Holidin, SPd MPd mengajarkan satu pelajaran penting : mimpi boleh tertunda, tetapi tidak pernah sia-sia. Selama iman dijaga dan doa tidak dilepaskan, selalu ada cahaya yang menunggu di ujung kesabaran.

Reporter: Fathurrahim Syuhadi