LAMONGAN lintasjatimnews – Maftuhah, M.Pd adalah potret pendidik yang memaknai pendidikan sebagai perjalanan panjang pengabdian, bukan sekadar rutinitas profesional. Di lingkungan STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) Muhammadiyah Paciran, ia dikenal sebagai sosok yang menempatkan ilmu, nilai, dan kemanusiaan dalam satu garis perjuangan.
Baginya, pendidikan adalah ruang bertumbuh bukan hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk dirinya sendiri sebagai insan pembelajar sepanjang hayat.
Latar belakang akademik yang dimilikinya menjadi fondasi kuat dalam menjalankan peran sebagai dosen dan pendidik. Namun, Maftuhah tidak berhenti pada penguasaan teori. Ia memahami bahwa ilmu akan kehilangan makna jika tidak disertai empati dan keteladanan.
Oleh karena itu, dalam setiap proses pembelajaran, ia berupaya menghadirkan suasana yang hidup, dialogis, dan bermakna, sehingga kelas tidak hanya menjadi tempat mendengar, tetapi juga ruang berpikir dan merenung.
Maftuhah menempatkan mahasiswa sebagai subjek utama pendidikan. Ia meyakini bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi unik yang perlu dirawat dengan kesabaran dan kepercayaan.
Pendekatan ini tercermin dari cara ia membimbing, memberi arahan, serta membuka ruang diskusi yang menghargai perbedaan pandangan. Dalam keheningan proses belajar, ia menanam benih keberanian berpikir kritis dan kejujuran intelektual.
Peran nyatanya dalam dunia pendidikan tidak hanya terukur dari aktivitas mengajar di ruang kelas, tetapi juga dari keterlibatannya dalam pembinaan akademik dan moral mahasiswa. Ia hadir ketika mahasiswa menghadapi kebingungan arah, keraguan terhadap kemampuan diri, maupun tantangan akademik. Dengan sikap yang bersahaja, ia membimbing tanpa menggurui, menguatkan tanpa menghakimi.
Penerima beasiswa LPPD Pemprof Jatim ini memandang pendidikan sebagai jalan membentuk karakter dan kesadaran sosial. Oleh karena itu, nilai-nilai etika, tanggung jawab, dan kepedulian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran yang ia rancang.
Ia percaya bahwa lulusan perguruan tinggi bukan hanya dituntut cakap secara akademik, tetapi juga mampu hadir sebagai agen perubahan yang membawa kebaikan bagi masyarakat.
Dalam keseharian pengabdiannya, ibu dari Aksa Pramudya Aidy ini menunjukkan bahwa kerja pendidik sering kali berlangsung dalam sunyi—tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan. Namun justru dari kerja sunyi itulah lahir dampak yang panjang dan berkelanjutan.
Setiap nasihat yang disampaikan dengan tulus, setiap contoh sikap yang ditunjukkan dengan konsisten, menjadi warisan nilai yang terus hidup dalam diri para mahasiswa.
Melalui perannya di STIT Muhammadiyah Paciran, Kandidat Doktor dari UMM ini telah mengambil bagian penting dalam merawat harapan dunia pendidikan. Ia menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya soal hari ini, melainkan tentang masa depan yang sedang disemai.
Dengan dedikasi, keikhlasan, dan kesetiaan pada nilai-nilai luhur pendidikan, ia terus melangkah menjadi pelita yang menerangi. Meski tak selalu terlihat, namun nyata dalam pengaruh dan maknanya.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








