SURABAYA lintasjatimnews.com – Rasulullah Saw pernah menyampaikan sebuah hadis yang sangat dalam maknanya, sekaligus menenangkan jiwa bagi siapa saja yang merenungkannya.
Beliau bersabda “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menggambarkan keistimewaan seorang mukmin dalam menyikapi kehidupan. Kata “menakjubkan” yang digunakan
Rasulullah Saw menunjukkan bahwa cara pandang dan sikap hidup seorang mukmin berada pada level yang tidak dimiliki oleh selainnya. Mukmin tidak menilai hidup hanya dari untung dan rugi secara duniawi, tetapi memandang setiap peristiwa sebagai jalan menuju kebaikan di sisi Allah.
Dalam kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari dua keadaan : lapang dan sempit, senang dan susah, berhasil dan gagal. Bagi kebanyakan orang, kesenangan sering melahirkan kelalaian, sementara kesusahan menumbuhkan keluh kesah. Namun bagi seorang mukmin, dua keadaan itu justru menjadi sarana ibadah dan ladang pahala.
Ketika seorang mukmin mendapatkan kesenangan—rezeki yang luas, kesehatan, keberhasilan, atau kebahagiaan keluarga—ia tidak larut dalam kesombongan. Ia menyadari bahwa semua itu bukan semata hasil kecerdikan dan kerja kerasnya, melainkan karunia Allah.
Kesadaran ini melahirkan rasa syukur yang tulus.
Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan dengan ketaatan, berbagi, dan menggunakan nikmat untuk hal-hal yang diridhai Allah. Inilah mengapa Rasulullah Saw menyebutnya “baik baginya”, karena syukur mendatangkan tambahan nikmat dan keberkahan.
Sebaliknya, ketika seorang mukmin diuji dengan kesusahan—entah berupa kehilangan, sakit, kegagalan, atau tekanan hidup—ia tidak larut dalam keputusasaan. Ia bersabar, menahan diri dari keluh kesah yang berlebihan, dan tetap menjaga prasangka baik kepada Allah.
Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan keteguhan hati untuk tetap taat sambil terus berikhtiar mencari jalan keluar. Kesabaran seperti ini juga disebut Rasulullah Saw sebagai kebaikan, karena di baliknya tersimpan pahala yang besar dan penghapusan dosa.
Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
Hal ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada hilangnya masalah, melainkan pada kemampuan iman dalam mengelola setiap keadaan. Seorang mukmin selalu berada dalam orbit kebaikan: saat senang ia bersyukur, saat susah ia bersabar. Tidak ada waktu yang sia-sia, karena semuanya bernilai ibadah.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh kompetisi, tekanan, dan ketidakpastian, pesan hadis ini terasa sangat relevan. Ia mengajarkan ketenangan batin, keteguhan jiwa, dan optimisme yang bersumber dari iman.
Mukmin tidak mudah goyah oleh keadaan, sebab hatinya terikat kepada Allah, bukan semata pada hasil dunia. Maka sungguh beruntung orang beriman.
Hidupnya mungkin sederhana atau penuh ujian, tetapi hatinya kaya dan tenang. Sebab ia tahu, apa pun yang Allah tetapkan—lapang atau sempit—selalu mengandung kebaikan.
Inilah rahasia menakjubkan kehidupan seorang mukmin.
Reporter : Fathurrahim Syuhadi








