Ice Breaking: Menyulut Bara Belajar di Pagi yang Masih Membeku

Listen to this article

LAMONGAN lintasjatimnews – Di setiap ruang kelas, selalu ada pagi yang terasa dingin. Bukan karena sisa hujan semalam atau embun yang masih melekat di kaca jendela, melainkan karena semangat belajar yang belum sepenuhnya terjaga. Mata siswa masih menyimpan sisa mimpi, bahu mereka menanggung lelah perjalanan, dan pikiran belum sepenuhnya berlabuh pada pelajaran yang menanti.

Dalam situasi itulah ice breaking menemukan maknanya. Bagi Maftuhah, M.Pd., dosen STITM Paciran sekaligus guru di beberapa sekolah, ice breaking bukan sekadar selingan atau permainan ringan, melainkan bagian penting dari strategi pembelajaran yang memanusiakan siswa.

“Ice breaking adalah nyala kecil yang menyulut bara belajar. Ia bukan tujuan, tapi pintu masuk agar siswa siap secara emosional dan mental untuk menerima pelajaran,” ujar Maftuhah saat ditemui usai kegiatan pembelajaran.

Selama ini, ice breaking kerap dipandang sebelah mata. Ia dianggap hanya sebagai hiburan singkat, tawa sesaat, atau aktivitas pengisi waktu. Padahal, di balik kesederhanaannya, ice breaking berfungsi sebagai jembatan rasa antara guru dan siswa. Ia membuka ruang aman sebelum nalar diajak bekerja.

Menurut Maftuhah, belajar sejatinya bukan hanya perjumpaan dengan materi, angka, atau hafalan. Belajar adalah peristiwa batin yang menuntut kesiapan jiwa.

“Sering kali kegagalan belajar bukan karena materi yang sulit, tetapi karena hati siswa belum hadir di kelas,” jelas Kandidat Doktor dari UMM ini

Ice breaking bekerja di wilayah sunyi yang tak tertulis dalam silabus, namun sangat menentukan hidup-matinya pembelajaran. Ketika tawa pecah bersama dan sekat kecanggungan runtuh, kelas berubah menjadi ruang yang ramah. Dan hanya di ruang aman itulah ilmu berani singgah.

“Ice breaking membuat siswa merasa diakui keberadaannya. Ada pesan tak terucap yang sampai ke mereka: kamu hadir, kamu berarti, dan perasaanmu dihargai,” tutur ibu satu putra ini

Lebih jauh, ice breaking juga melatih kehadiran penuh (full presence). Siswa yang semula tenggelam dalam pikirannya sendiri perlahan kembali ke ruang kelas. Perhatian menyatu, energi kolektif terbangun, dan suasana belajar pun menjadi hidup.

Bagi guru, ice breaking adalah seni membaca suasana. Ia menuntut kepekaan, bukan kemewahan. Tidak selalu membutuhkan alat canggih atau waktu panjang. “Cukup niat untuk menyapa, keberanian untuk bermain, dan kerendahan hati untuk tertawa bersama siswa,” ungkap Wakil Ketua STITM ini

Dalam bingkai pendidikan berkemajuan, ice breaking juga menjadi sarana penanaman nilai. Kerja sama, empati, kejujuran, dan saling menghargai tumbuh dari pengalaman sederhana yang dialami bersama. Nilai-nilai itu tidak diceramahkan, melainkan dihidupkan.

“Maka sebelum papan tulis dipenuhi tulisan dan pelajaran dimulai dengan keseriusan, biarkan ice breaking lebih dulu bekerja,” ujarnya

Lanjutnya, ilmu paling mudah mengetuk hati yang gembira, dan pendidikan paling indah lahir dari ruang kelas yang hidup.

“Ice breaking pun bukan pengantar kosong. Ia adalah doa yang tak terucap agar belajar hari itu benar-benar bermakna,” pungkasnya

Reporter Fathurrahim Syuhadi