SURABAYA lintasjatimnews – Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering terjebak dalam perlombaan yang melelahkan: membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial, prestasi materi, dan pengakuan publik kerap menjadi tolok ukur kebahagiaan.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa keberuntungan sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang dimiliki, melainkan pada hati yang mampu bersyukur dan bersih dari rasa iri. Beruntunglah orang-orang yang memiliki rasa syukur yang cukup dan tidak memelihara iri dalam dadanya, karena merekalah pemilik ketenangan yang hakiki.
Syukur adalah kunci pembuka kebahagiaan. Allah Swt menegaskan dalam Al-Qur’an “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan lisan, melainkan sikap hidup yang menghadirkan keberkahan. Orang yang bersyukur merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Ia tidak silau dengan kepunyaan orang lain, karena hatinya telah penuh oleh rasa terima kasih kepada Allah. Rasa cukup inilah yang membuat hidup terasa ringan dan jiwa tidak mudah gelisah.
Sebaliknya, iri hati adalah penyakit batin yang menggerogoti kebahagiaan. Iri bukan hanya membuat seseorang tidak bahagia, tetapi juga merusak amal kebaikan. Rasulullah Saw bersabda “Hindarilah hasad (iri), karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa iri hati bukan persoalan sepele. Ia menghabiskan pahala, merusak persaudaraan, dan menumbuhkan prasangka buruk. Orang yang iri sesungguhnya sedang menyiksa dirinya sendiri, karena hatinya terus sibuk memantau kelebihan orang lain, bukan mensyukuri nikmat yang ia miliki.
Buya Hamka, ulama dan sastrawan besar Indonesia, banyak menekankan pentingnya syukur dan bahaya iri dalam kehidupan. Dalam salah satu mutiara hikmahnya, Hamka menyampaikan makna yang mendalam: “Bahagia itu bukan karena hidup kita lebih tinggi dari orang lain, tetapi karena jiwa kita tidak lagi mengukur hidup dengan kehidupan orang lain.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa akar penderitaan sering kali bukan kekurangan nikmat, melainkan kebiasaan membandingkan diri.
Hamka juga mengingatkan bahwa orang yang bersyukur akan selalu melihat hidup dari sisi terang, sementara orang yang iri akan selalu merasa kurang meskipun memiliki segalanya. Syukur menjadikan seseorang kaya batin, sedangkan iri menjadikannya miskin meskipun bergelimang harta.
Islam mengajarkan keseimbangan yang indah: bersyukur atas apa yang ada, dan berikhtiar tanpa dengki terhadap sesama. Rasulullah Saw bersabda “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dalam urusan dunia, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)
Hadis ini adalah resep praktis untuk memelihara syukur dan mematikan iri. Dengan melihat ke bawah, kita belajar rendah hati; dengan bersyukur, kita belajar tenang.
Maka sungguh beruntung orang-orang yang memiliki rasa syukur yang cukup dan tak menyimpan rasa iri. Mereka mungkin tidak selalu memiliki segalanya, tetapi hati mereka damai. Ketahuilah, ketenangan hati adalah nikmat yang paling mahal, yang hanya diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dan lapang dada.
Penulis Fathurrahim Syuhadi








