Rezeki Sudah Ditentukan, Namun Ikhtiar Tetap Wajib Dijalankan

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Dalam ajaran Islam, persoalan rezeki sering kali menjadi bahan perenungan yang mendalam. Banyak orang bertanya, jika rezeki telah ditentukan oleh Allah Swt, mengapa manusia masih harus bersusah payah bekerja dan berusaha?

Islam memberikan jawaban yang seimbang: rezeki memang telah ditetapkan oleh Allah, tetapi ikhtiar tetap merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.

Allah Swt menegaskan bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Ayat ini menegaskan keyakinan dasar seorang Muslim bahwa rezeki tidak akan tertukar dan tidak akan tertahan dari hamba-Nya. Jaminan ini menumbuhkan ketenangan batin, menghilangkan rasa takut berlebihan terhadap masa depan, serta membebaskan manusia dari kecemasan yang melemahkan iman.

Namun, keyakinan bahwa rezeki telah ditentukan bukan berarti Islam mengajarkan sikap pasif atau fatalistik. Justru sebaliknya, Allah Swt memerintahkan manusia untuk berusaha dan bergerak. Firman-Nya “Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)

Perintah “berjalanlah” dalam ayat ini merupakan isyarat yang jelas tentang kewajiban ikhtiar. Rezeki tidak datang kepada orang yang berpangku tangan, melainkan kepada mereka yang mau menjemputnya dengan usaha yang halal dan sungguh-sungguh.

Rasulullah Saw juga menegaskan prinsip keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar. Dalam sebuah hadis yang masyhur, ketika seorang sahabat bertanya tentang untanya, Nabi Saw bersabda “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal bukanlah menyerahkan segala sesuatu tanpa usaha, melainkan menyempurnakan ikhtiar terlebih dahulu, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt. Tawakal tanpa usaha adalah kelalaian, sedangkan usaha tanpa tawakal adalah kesombongan.

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

Perhatikanlah burung dalam hadis ini. Ia tidak diam di sarang menunggu makanan, tetapi terbang, mencari, dan berusaha. Inilah gambaran ikhtiar yang dibalut dengan tawakal sejati.

Para ulama juga banyak memberikan mutiara hikmah tentang rezeki dan ikhtiar. Imam Al-Ghazali berkata, “Rezeki memang telah dijamin, tetapi jalan untuk meraihnya diperintahkan. Siapa yang meninggalkan jalan, ia telah menyelisihi perintah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa usaha adalah bagian dari ketaatan, bukan sekadar kebutuhan duniawi.

Ibnu Taimiyah menyatakan, “Tawakal tidak meniadakan sebab, dan mengambil sebab tidak meniadakan tawakal.” Ini menunjukkan bahwa sebab (usaha) dan tawakal adalah dua hal yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Sementara itu, Imam Hasan Al-Bashri memberi nasihat yang sangat dalam: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan apa yang di sisi Allah kecuali dengan ketaatan, dan rezeki tidak akan tertahan dari orang yang bertakwa.” Takwa menjadi kunci utama keberkahan rezeki, bukan sekadar banyak atau sedikitnya harta.

Dengan demikian, Islam mengajarkan keseimbangan yang indah. Rezeki sudah ditentukan oleh Allah Swt sebagai bentuk kasih sayang-Nya, agar manusia tidak diliputi kegelisahan. Namun, ikhtiar tetap diwajibkan sebagai wujud tanggung jawab, ketaatan, dan kehormatan manusia sebagai khalifah di bumi.

Seorang Muslim sejati adalah ia yang bekerja keras dengan cara yang halal, jujur, dan amanah, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang lapang. Ketika rezeki datang, ia bersyukur. Ketika terasa sempit, ia bersabar. Inilah sikap hidup yang menenangkan jiwa dan meneguhkan iman : yakin pada takdir, tekun dalam ikhtiar, dan tulus dalam tawakal.

Penulis Fathurrahim Syuhadi