LAMONGAN lintasjatimnews – Di setiap zaman, manusia selalu mencari sosok pemimpin, seseorang yang berdiri di depan ketika jalan terasa gelap, yang suaranya dipercaya mampu menenangkan riuh, dan kehadirannya memberi arah. Demikian disampaikan Maftuhah, M.Pd., Dosen STIT Muhammadiyah Paciran, Jum’at (23/1/2026)
Dalam kegelisahan sosial, krisis kepercayaan, dan derasnya arus informasi, pemimpin menjadi tumpuan harapan. Namun sering kali, kita keliru mengartikan makna terang. Kita mengira pemimpin harus menyala seperti api: lantang, membakar, dan menghanguskan perbedaan demi terlihat kuat. Padahal, kepemimpinan sejati justru lebih menyerupai cahaya : tenang, konsisten, dan menghidupkan.
“Pemimpin sejati bukanlah sosok yang membakar emosi pengikutnya, melainkan yang menerangi cara berpikir dan menumbuhkan kesadaran bersama. Cahaya kepemimpinan lahir dari ketenangan batin dan kejernihan nurani,” tegas Wakil Ketua STIT Muhammadiyah Paciran ini.
Penegasan ini mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak diukur dari kebisingan suara, tetapi dari kemampuan memberi arah. Api memang memikat karena dramanya. Ia menyala cepat, menghangatkan sesaat, dan menarik perhatian banyak orang. Namun api juga rakus. Ia membutuhkan bahan bakar, dan sering kali bahan bakar itu adalah amarah, ketakutan, atau kebencian.
Ditambahkan Maftuhah bahwa dalam kepemimpinan yang berapi-api, kata-kata menjadi percikan dan keputusan menjadi bara. Pengikut mungkin tergerak dan bersemangat, tetapi sering kali mereka tidak sadar bahwa semangat itu dibangun di atas kelelahan emosional dan luka sosial yang perlahan menganga.
Cahaya berbeda. Ia tidak berisik dan tidak mengaum. Cahaya hadir untuk menerangi, bukan untuk menguasai. Ia memungkinkan kita melihat jalan dengan lebih jelas, melihat sesama dengan empati, dan melihat diri sendiri secara jujur. Pemimpin sebagai cahaya tidak memaksa orang untuk mengikutinya; ia membuat jalan terlihat terang sehingga orang memilih melangkah bersama. Ia tidak menutup ruang dengan bayangan ego, melainkan membuka cakrawala harapan dan rasa aman.
Lanjutnya, dalam dunia yang gaduh, pemimpin cahaya memilih hening yang bermakna. Ia mendengar sebelum berbicara dan memahami sebelum memutuskan. Ketika konflik muncul, ia tidak menyiramkan bensin pada api perbedaan, tetapi menghadirkan lentera dialog.
“Ketegasan tidak identik dengan kekerasan bahasa. Pemimpin yang dewasa justru mampu bersikap tegas tanpa melukai, berani tanpa harus berteriak.” ujar Kandidat Doktor Pendidikan dari UMM ini
Dari sikap inilah kepercayaan tumbuh dan ketegangan mereda.
Pemimpin yang menjadi cahaya juga memahami batas dirinya. Ia tidak berpura-pura menjadi matahari yang harus bersinar sendiri. Sebaliknya, ia memantulkan cahaya, memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh dan bersinar.
Ibu satu putra ini menegaskan bahwa dalam kepemimpinannya, prestasi bukan milik satu nama, melainkan hasil gotong royong. Ketika keberhasilan diraih, ia berbagi apresiasi; ketika kegagalan datang, ia berdiri paling depan untuk bertanggung jawab tanpa mencari kambing hitam.
Api sering menjanjikan perubahan instan, tetapi cahaya bekerja dengan kesabaran. Perubahan yang dibawa cahaya mungkin tidak spektakuler, namun berakar kuat. Ia menumbuhkan kepercayaan, dan dari kepercayaan lahir keberlanjutan. Pemimpin cahaya membangun sistem, bukan sekadar sensasi. Ia menanam nilai, bukan hanya slogan.
Seperti ditegaskan Maftuhah, “Masa depan tidak dibangun oleh ledakan emosi sesaat, tetapi oleh konsistensi nilai yang dirawat terus-menerus.”
Di hadapan krisis, perbedaan antara api dan cahaya semakin nyata. Api cenderung panik, membesar, dan menghanguskan. Cahaya justru menenangkan dan memandu langkah satu per satu. Pemimpin cahaya tidak menjual ketakutan demi loyalitas, tetapi menawarkan kejujuran meski pahit dan harapan yang masuk akal. Ia tidak mengklaim memiliki semua jawaban, tetapi berani berkata, “Mari kita cari bersama.”
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, melainkan siapa yang paling konsisten menjaga arah. Kita hidup di masa yang mudah terbakar; media sosial mempercepat percikan dan emosi cepat tersulut. Justru karena itulah dunia diam-diam selalu lebih membutuhkan pemimpin yang memilih menjadi cahaya, bukan api.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








