SURABAYA lintasjatimnews – Peristiwa Isra Mi‘raj merupakan salah satu tonggak terpenting dalam sejarah Islam. Melalui perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha, umat Islam menerima perintah shalat lima waktu. Peristiwa ini bukan sekadar kisah mukjizat, melainkan fondasi pendidikan ruhani dan pembentukan karakter yang sangat relevan dengan dunia kepanduan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”(QS. Al-Isra: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mi‘raj adalah proses pendidikan ilahiyah. Nabi Muhammad saw. dipersiapkan secara spiritual dan mental untuk menerima amanah besar, yakni shalat. Dalam hadis disebutkan:
“Shalat diwajibkan atas Nabi pada malam Isra Mi‘raj sebanyak lima puluh waktu, kemudian dikurangi hingga menjadi lima waktu, namun pahalanya tetap seperti lima puluh waktu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Shalat lima waktu menjadi bentuk latihan disiplin spiritual yang berkelanjutan. Inilah nilai utama yang sejalan dengan pendidikan kepanduan, termasuk dalam Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Kepanduan tidak hanya mendidik keterampilan fisik dan kecakapan hidup, tetapi juga membangun kepribadian yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia.
Dalam konteks kepanduan, shalat lima waktu merupakan sarana pembentukan karakter pandu yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab. Pelaksanaan shalat tepat waktu melatih manajemen diri, kesadaran terhadap waktu, serta ketaatan pada aturan. Nilai ini sangat sejalan dengan prinsip kepanduan yang menekankan kedisiplinan dan komitmen terhadap janji.
Rasulullah saw. bersabda “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa shalat bukan hanya ibadah personal, tetapi juga identitas dan komitmen keimanan. Dalam pendidikan kepanduan, shalat berjamaah saat perkemahan, latihan, atau kegiatan lapangan menjadi media internalisasi nilai kebersamaan, kepemimpinan, dan ketaatan.
Isra Mi‘raj juga mengajarkan bahwa hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah) harus seimbang dengan hubungan horizontal sesama manusia (hablun minannas). Seorang pandu yang menjaga shalatnya akan lebih peka terhadap nilai kejujuran, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, Isra Mi‘raj tidak hanya dikenang sebagai peristiwa historis, tetapi harus dihidupkan dalam sistem pendidikan, termasuk pendidikan kepanduan. Shalat lima waktu menjadi sarana pembinaan karakter pandu yang utuh yakni kuat iman, disiplin waktu, tangguh dalam tantangan, dan siap mengabdi untuk umat dan bangsa.
Di sinilah Isra Mi‘raj menemukan maknanya sebagai inspirasi pendidikan sepanjang zaman, khususnya para pandu Hizbul Wathan
Penulis Fathurrahim Syuhadi








