Puncak Spiritualitas dan Pengabdian Sosial : Tantangan Generasi Z

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Dalam Islam, spiritualitas tidak berhenti pada ritual dan pengalaman batin semata. Justru, puncak spiritualitas seseorang diuji melalui sejauh mana ia menghadirkan manfaat bagi sesama.

Ibadah yang sejati tidak menjauhkan manusia dari realitas sosial, tetapi mendorongnya untuk terlibat aktif dalam menghadirkan kebaikan, keadilan, dan kemaslahatan.

Pesan inilah yang menjadi sangat relevan bagi Generasi Z (Gen Z), generasi yang hidup di tengah percepatan teknologi, perubahan sosial, dan tantangan kemanusiaan yang kompleks.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kesalehan tidak cukup diukur dari simbol keagamaan semata. Allah berfirman, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan ialah beriman kepada Allah… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang-orang yang membutuhkan.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Ayat ini menegaskan bahwa iman dan ibadah harus melahirkan kepedulian sosial yang konkret.

Rasulullah Saw juga menekankan dimensi sosial dari spiritualitas. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Hadis ini menjadi ukuran sederhana namun mendalam tentang kualitas keimanan seseorang. Ibadah yang benar seharusnya menggerakkan pelakunya untuk memberi manfaat, bukan hanya merasa saleh secara pribadi.

Imam Al-Ghazali, ulama besar dan tokoh tasawuf Islam, memberikan pesan yang sangat tajam terkait hal ini. Dalam pemikirannya, ia menegaskan bahwa ibadah tanpa kepedulian sosial berpotensi melahirkan kesalehan semu.

Al-Ghazali menyampaikan makna yang sangat dalam: “Bukanlah kezuhudan itu dengan mengosongkan tangan dari harta, tetapi dengan mengosongkan hati dari ketergantungan, lalu menggunakannya untuk kemaslahatan manusia.”

Pesan ini menunjukkan bahwa puncak spiritualitas justru tampak ketika seseorang mampu mengendalikan ego dan mengabdikan dirinya bagi kebaikan bersama.

Bagi Generasi Z, pesan ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, Gen Z dikenal religius, terbuka, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sosial seperti kemiskinan, keadilan, lingkungan, dan kemanusiaan.

Namun di sisi lain, mereka hidup dalam budaya digital yang rawan melahirkan individualisme, pencitraan, dan aktivisme semu. Spiritualitas pun berisiko terjebak pada tampilan luar, bukan pada perubahan nyata.

Islam menawarkan jalan tengah yang kuat: ibadah sebagai energi perubahan sosial. Salat, puasa, zakat, dan berbagai bentuk ibadah lainnya seharusnya membentuk karakter empatik, jujur, dan bertanggung jawab.

Salat melatih disiplin dan kejujuran, puasa menumbuhkan kepekaan sosial, dan zakat menegaskan keberpihakan pada kaum lemah. Inilah wajah Islam yang ramah, inklusif, dan solutif.

Islam yang ramah tercermin dalam sikap santun dan toleran. Islam yang inklusif tampak dalam kesediaan merangkul perbedaan. Sementara Islam yang solutif hadir ketika umatnya mampu memberi solusi atas persoalan nyata masyarakat.

Generasi Z diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai ibadah ini ke dalam tindakan nyata, baik di ruang sosial maupun di dunia digital.

Pada akhirnya, puncak spiritualitas bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi seberapa besar dampak kebaikan yang ia hadirkan bagi sesama.

Di tangan Generasi Z, ibadah diharapkan menjadi kekuatan moral dan sosial yang menggerakkan perubahan, membangun peradaban, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Penulis Fathurrahim Syuhadi