LAMONGAN lintasjatimnews – Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang diperingati umat Muslim setiap tahunnya. Lebih dari sekadar perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj juga menyimpan makna sosial yang mendalam dan relevan untuk dikaji melalui perspektif sosiologi agama.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa agama memiliki hubungan timbal balik dengan struktur sosial, budaya, dan dinamika masyarakat.
Dalam kajian sosiologi agama, Isra Mi’raj dapat dipahami sebagai peristiwa yang memperkuat identitas sosial umat Muslim. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, kemudian naik ke Sidratul Muntaha, menjadi simbol perjalanan spiritual yang tidak hanya mengubah individu, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif umat.
Pada masa itu, umat Islam berada dalam kondisi tekanan sosial dan penindasan, sehingga Isra Mi’raj hadir sebagai penguat iman sekaligus solidaritas sosial.
Sosiolog dan Dosen STIQSI Lamongan, Anis Ulfiyatin, S.Sos, M.Sosio, menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj memiliki dimensi sosial yang kuat.
“Dalam perspektif sosiologi agama, Isra Mi’raj tidak hanya berbicara tentang relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman keagamaan membentuk identitas sosial dan kohesi umat,” ujar Sosiolog lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini
Lebih jauh, Isra Mi’raj juga menunjukkan bagaimana agama dapat menjadi sumber inspirasi bagi perubahan sosial dan pembentukan struktur kepemimpinan. Nabi Muhammad SAW tampil sebagai pemimpin spiritual yang membawa pesan kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan. Otoritas kepemimpinan Rasulullah tidak bertumpu pada kekuasaan politik atau dominasi material, melainkan pada kebijaksanaan, integritas moral, dan kesucian spiritual.
“Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa kepemimpinan yang kuat lahir dari nilai moral dan spiritual, bukan dari paksaan kekuasaan,” tambah ibu tiga putra putri ini
Menurutnya, hal ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat modern yang kerap memaknai kepemimpinan secara sempit dan pragmatis.
Peristiwa Isra Mi’raj juga menegaskan bahwa agama tidak hanya berfungsi sebagai ritual ibadah semata, tetapi juga sebagai pedoman dalam membangun relasi sosial yang adil dan beradab. Nilai-nilai yang dibawa Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya kepedulian sosial, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Dalam kerangka sosiologi agama, fungsi ini menunjukkan peran agama sebagai agen kontrol sosial sekaligus pendorong transformasi masyarakat.
Dalam konteks Indonesia, peringatan Isra Mi’raj memiliki relevansi yang sangat kuat. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong perubahan sosial yang positif, seperti meningkatkan kesadaran akan pentingnya keadilan dan kesetaraan, memperkuat solidaritas dan kerja sama antarumat Muslim, serta meneguhkan pentingnya kepemimpinan yang adil dan bijaksana.
Selain itu, Isra Mi’raj juga menjadi pengingat pentingnya ijtihad dalam menghadapi tantangan zaman.
“Umat Islam perlu memaknai Isra Mi’raj secara kontekstual, agar nilai-nilainya mampu menjawab persoalan sosial yang terus berkembang,” pungkas alumni Ponpes Al Ishlah ini
Dengan demikian, Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa historis dan spiritual, tetapi juga sumber refleksi sosial yang relevan untuk membangun masyarakat yang berkeadilan, beradab, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
Reporter Fathurrahim Syuhadi








