Berpeganglah pada Al-Qur’an dan Sunnah

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Setiap insan berusaha meniti jalan kehidupan demi mencapai cakrawala keselamatan dan keabadian. Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Di tengah derasnya arus zaman, manusia sering kehilangan sandaran dan arah.

Ketika obor penerang mulai redup, saat itulah hati nurani menjadi penentu. Sebab hidayah dan nur Ilahi hanya akan bersemayam di dalam hati yang bersih, tunduk, dan siap menerima kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk. Dia menurunkan Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan dan mengutus Nabi Muhammad Saw dengan sunnahnya sebagai penjelas dan penuntun.

Allah Swt berfirman “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan.”
(QS. Al-Māidah: 15–16)

Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan sejati hanya dapat diraih dengan mengikuti cahaya wahyu. Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman hidup yang membimbing manusia agar tidak terjerumus dalam kegelapan hawa nafsu dan kebingungan akal.

Rasulullah Saw pun menegaskan pentingnya berpegang teguh pada dua warisan agung yang tidak akan menyesatkan umatnya.

Dalam sebuah hadis, beliau bersabda “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara; kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.”
(HR. Malik)

Hadis ini menjadi penegasan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah kompas kehidupan. Ketika manusia menjadikannya sebagai syariat dan pedoman, maka langkah hidup akan lebih terarah. Persoalan dunia dan akhirat dapat disikapi dengan bijak, karena keduanya berakar pada nilai ilahiah yang benar dan lurus.

Buya Hamka, seorang ulama, sastrawan, dan pemikir besar Islam Indonesia, pernah mengingatkan bahwa kemajuan manusia tanpa tuntunan wahyu justru dapat menjerumuskannya. Dalam mutiara hikmahnya, beliau berkata, “Kecerdasan akal tanpa bimbingan iman hanya akan melahirkan kesombongan, bukan keselamatan.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa akal harus tunduk kepada wahyu agar menjadi sarana kebaikan, bukan alat kehancuran.

Hamka juga menekankan pentingnya kejernihan hati dalam menerima petunjuk Allah. Menurut beliau, “Hati yang keruh tidak mampu memantulkan cahaya kebenaran, meskipun cahaya itu terang benderang.” Maka, membersihkan hati dengan iman, ibadah, dan akhlak mulia menjadi syarat utama agar Al-Qur’an dan Sunnah benar-benar hidup dalam diri.

Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah bukan berarti memunggungi zaman, tetapi justru menjadikan kita memiliki fondasi kokoh dalam menghadapi perubahan. Di sanalah letak kasih sayang Allah Yang Maha Rahman, memberikan pedoman yang pasti agar manusia selamat di dunia dan bahagia di akhirat.

Dengan hati yang bersih dan komitmen yang kuat terhadap wahyu, insya Allah jalan kesejatian akan selalu terbentang terang di hadapan kita.

Penulis Fathurrahim Syuhadi