Seni Menemukan Kebahagiaan: Nikmatnya Hidup dengan Bersyukur

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, kita sering kali terjebak dalam perlombaan untuk mengejar apa yang “belum” kita miliki. Kita mengejar karier yang lebih tinggi, rumah yang lebih mewah, atau pengakuan yang lebih luas. Namun, seringkali setelah semua itu tercapai, rasa hampa tetap ada.

Di sinilah syukur hadir sebagai kunci sederhana namun mendalam untuk mengubah kualitas hidup seseorang. Syukur adalah sebuah seni untuk merasa cukup dan melihat dunia dengan mata batin yang jernih.

Nikmatnya hidup dengan bersyukur adalah ketika kita menyadari bahwa hidup ini sendiri adalah sebuah hadiah. Ketika kita berhenti mengeluh tentang duri pada bunga mawar dan mulai bersyukur atas keindahan mawar yang tumbuh di antara duri, saat itulah kita benar-benar mulai hidup.

Syukur adalah magnet bagi keajaiban. Sebagaimana pesan Buya Hamka, janganlah kita menunggu bahagia baru bersyukur, tapi bersyukurlah agar kita menjadi bahagia.

Dalam perspektif spiritual, syukur bukan sekadar luapan emosi kebahagiaan, melainkan sebuah kewajiban hamba kepada Sang Pencipta.

Allah Swt telah memberikan jaminan yang pasti dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 7 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’.”

Ayat ini menegaskan bahwa syukur adalah investasi. Ketika kita mengakui nikmat yang ada, pintu keberkahan lainnya akan terbuka. Sebaliknya, kufur nikmat atau terus-menerus merasa kurang hanya akan mendatangkan kesempitan jiwa.

Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadis yang memotivasi kita untuk melihat ke bawah agar hati tidak menjadi sombong “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu tidak akan membuatmu meremehkan nikmat Allah kepadamu.” (HR. Muslim)

Bersyukur bukan berarti kita berhenti berusaha atau menjadi statis. Bersyukur adalah kemampuan untuk menghargai apa yang ada di tangan kita saat ini, sambil tetap berjalan menuju tujuan masa depan.

Saat kita bersyukur, fokus kognitif kita beralih dari kekurangan menjadi keberimpahan. Hal kecil seperti udara segar pagi hari atau secangkir kopi hangat menjadi sumber kebahagiaan yang nyata.

Mengenai ketenangan hati dalam syukur ini, tokoh ulama besar Indonesia, Buya Hamka, dalam karyanya Tasawuf Modern, memberikan mutiara hikmah yang sangat mendalam “Bahagia itu terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan. Siapa yang bersyukur atas apa yang telah ada, dialah orang yang paling kaya.”

Menurut Hamka, kekayaan sejati bukan pada tumpukan harta, melainkan pada hati yang qana’ah (merasa cukup).

Menghidupkan rasa syukur memiliki dampak medis dan sosial yang nyata. Secara biologis, syukur menurunkan hormon stres (kortisol) dan menstabilkan detak jantung. Secara sosial, ia mempererat hubungan karena apresiasi menciptakan energi positif bagi orang-orang di sekitar kita.

Sadarilah bahwa media sosial hanyalah etalase keberhasilan, bukan realitas utuh perjuangan seseorang. Ucapkan terima kasih atas nafas dan kesempatan baru sebelum memulai aktivitas.

Penulis Fathurrahim Syuhadi