Menjemput Bahagia di Balik Ridha : Seni Melapangkan Hati

Listen to this article

SURABAYA lintasjatimnews – Perasaan bahagia tidaklah sama bagi setiap orang. Kebahagiaan adalah sebuah spektrum yang subjektif. Setiap individu mempunyai keinginan dan tujuan yang berbeda, demikian pula dengan perasaan dan cara mereka memaknai hidup.

Namun, sering kali kita terjebak dalam definisi bahagia yang semu, yang hanya digantungkan pada pencapaian materi atau ketiadaan masalah.

Boleh jadi, alasan mengapa kita belum merasa bahagia hingga saat ini adalah karena kita belum “mengizinkan” hati kita sendiri untuk merasakannya. Kita sering kali memasang syarat yang terlalu tinggi untuk merasa bahagia.

Kita berkata pada diri sendiri, “Aku akan bahagia jika hutangku lunas,” atau “Aku akan bahagia jika masalah ini selesai.” Padahal, kebahagiaan sejati tidak menunggu keadaan menjadi sempurna.

Mungkin kehidupan ini terasa terlalu berat untuk dihadapi. Setiap hari yang kita rasakan hanyalah masalah yang datang silih berganti, seolah-olah nasib buruk telah memilih kita sebagai sasaran utamanya. Dalam kondisi lelah seperti ini, sangat mudah bagi jiwa untuk jatuh dalam keputusasaan.

Namun, Imam Al-Ghazali dalam kitab puncaknya, Ihya Ulumuddin, memberikan sebuah perspektif yang mencerahkan. Beliau menyatakan “Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan kesabaran dalam menghadapi cobaan. Karena sesungguhnya, kelezatan yang paling tinggi bagi jiwa manusia adalah mengenal Allah (Ma’rifatullah).”

Menurut Al-Ghazali, sumber ketidakbahagiaan sering kali muncul karena hati kita terlalu terpaut pada dunia yang tidak kekal. Ketika dunia mengecewakan kita, hati ikut hancur. Namun, jika hati tertambat pada Yang Maha Kekal, goncangan duniawi takkan mampu meruntuhkan kedamaian batin.

Sesungguhnya kebahagiaan itu akan dapat kita rasakan ketika hati kita berlapang. Kuncinya adalah Ridha—menerima dengan sepenuh hati atas segala yang kita peroleh, bahkan cobaan seberat apa pun. Ridha adalah bentuk tertinggi dari rasa syukur.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 72 “…Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itulah keberuntungan yang besar.”

Ayat ini mengajarkan bahwa puncak pencapaian seorang manusia bukanlah harta, melainkan keridhaan. Saat kita ridha kepada Allah atas takdir-Nya, maka Allah pun ridha kepada kita. Di dalam keridhaan timbal-balik itulah kebahagiaan menetap.

Rasulullah Saw juga memberikan panduan agar hati tetap tenang di tengah badai kehidupan melalui sabdanya “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya… Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Meski memperoleh berbagai cobaan, cobalah untuk merasa bahagia meskipun dengan hal yang sangat kecil. Sempatkanlah senyum setiap pagi, meskipun beban di pundak terasa begitu berat. Senyuman bukan berarti kita meremehkan masalah, melainkan cara kita berkata pada dunia bahwa harapan itu masih ada.

Percayalah, kebahagiaan akan menyertai hati dan hari-hari kita jika kita berhenti berfokus pada apa yang hilang dan mulai mensyukuri apa yang tersisa. Bahagia itu tidak datang dari luar ke dalam, melainkan memancar dari dalam ke luar. Subhanallah

Penulis Fathurrahim Syuhadi