JAKARTA lintasjatimnews – (AS) dikabarkan telah bersedia, memasukan komoditas kelapa sawit dalam daftar bebas bea masuk atau biaya ekspor nol persen dari Indonesia ke AS.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, nantinya detail keputusan itu akan tertuang dalam Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang bakal ditandatangani dua kepala negara pada Januari 2026 mendatang.
Hasil pertemuan Menko Perekonomian RI Airlangga dengan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer, disepakati tenggat waktu penyelesaian teknis dokumen perdagangan kedua negara.
Tanggon nm selaku Presidium ISC/
Indonesia Study Center menambahkan ini bisa menjadi angin segar di awal tahun 2026 apabila regulasi ini terwujud, Industri kelapa sawit kembali membuktikan perannya sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia. Sebagai produsen terbesar dunia dengan pangsa 58% pasar global, sektor ini menyumbang devisa negara hingga lebih dari USD 30 miliar per tahun.
Kontribusi Ekonomi Berlipat
Selain devisa ekspor, industri sawit memberikan dampak multiplier yang signifikan, yaitu penyerapan lapangan kerja di Indonesia sebanyak 16 juta orang, dan akan terus bertambah seiring dengan permintaan ekspor kelapa sawit yang tinggi.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, pemerintah Indonesia dan AS melalui perjanjian bilateral telah menyepakati pengecualian sawit dari tarif impor 19%. Dengan demikian, sawit mendapatkan bea masuk impor 0%. Kami dari ISC melihat hal ini akan berdampak positif terhadap ekspor sawit ke Negara Paman Sam itu. Pembebasan bea masuk impor itu diperkirakan bakal berdampak ke peningkatan ekspor sawit menjadi 3 juta ton dalam dua tahun ke depan.
“Ekspor Indonesia ke AS 5 tahun terakhir naik di tahun 2023 sudah tembus 2,5 juta ton, turun sedikit 2,3 juta ton di tahun 2024, kalau kembali ke tarif 0% ada kemungkinan dua tahun ke depan akan tembus 3 juta ton.
Selama bertahun-tahun, ekspor sawit Indonesia ke Amerika Serikat dibebani tarif resiprokal hingga 32%. Angka itu bukan receh. Tarif tinggi membuat harga produk sawit dan turunannya kalah saing dibanding minyak nabati lain seperti kedelai atau canola,Lanjut Tanggon,Presidum Indonesia Study Center.
Dalam Kajian Indonesia Study Center (ISC) data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sepanjang 2024 mencapai 6,75 juta ton dengan nilai US$26,5 miliar. Amerika Serikat masih menjadi salah satu pasar ekspor utama Indonesia, khususnya untuk komoditas perkebunan kelapa sawit.
Kini, dengan tarif nol persen, peta permainan berubah total. Biaya pajak yang dulu menggerus harga kini berpotensi menjadi tambahan margin laba bagi perusahaan.
Penghapusan bea masuk membuat produk sawit Indonesia lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain di pasar AS. Selama ini, tarif impor menjadi salah satu hambatan utama yang menekan daya saing harga.
Tanggon melanjutkan, Ini bisa menjadi moment kebangkitan ekonomi indonesia baik di dalam negri juga luar negri, Bebas tarif CPO ke AS berdampak positif signifikan bagi Indonesia, terutama meningkatkan daya saing, mendorong volume ekspor, memperbesar pendapatan perusahaan sawit , memperkuat industri pengolahan, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan devisa negara. Penghapusan tarif membuat produk sawit RI lebih kompetitif melawan minyak nabati lain seperti minyak kedelai, membuka peluang besar di pasar AS yang bernilai tinggi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu apabila kebijakan ini disepakati dapat Meningkatkan Daya Saing & Ekspor Produk CPO dan turunan sawit Indonesia menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar AS dibandingkan produk dari negara lain, sehingga volume ekspor bisa melonjak. juga dapat Meningkatkan Pendapatan Perusahaan Perusahaan sawit akan merasakan lonjakan pendapatan karena keuntungan tidak lagi tergerus beban bunga pinjaman, memungkinkan dividen lebih tinggi dan pertumbuhan.
Mendorong Industri Pengolahan Membuka peluang besar bagi perusahaan sawit untuk mengolah CPO menjadi produk bernilai tambah (minyak goreng, margarin) dan menembus pasar ritel/industri makanan AS. dan yang terpenting ialah bisa menjadi Peningkatan Kapasitas Produksi & Lapangan Kerja Kenaikan ekspor akan mendorong utilisasi pabrik dan memperkuat industri padat karya, menciptakan lapangan kerja. Penguatan Industri Manufaktur Sektor manufaktur padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur juga diuntungkan karena beban tarif turun, profit naik, dan sahamnya bisa menguat.
Serta akan Menambah Devisa Negara Peningkatan ekspor secara langsung menambah pemasukan devisa, yang bisa digunakan untuk membiayai impor dan pembangunan. Pungkas tanggon dalam keterangan Persnya.
Reporter : Edo








