SURABAYA lintasjatimnews – Pergantian tahun sering kita sambut dengan ucapan selamat dan harapan baru. Namun di balik angka yang bertambah pada usia, tersimpan sebuah kenyataan yang patut kita renungkan bersama.
Secara kuantitas, umur kita memang bertambah, tetapi pada hakikatnya di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, jatah hidup di dunia justru semakin berkurang.
Setiap detik yang berlalu adalah langkah mendekat menuju pertemuan dengan-Nya. Karena itu, pergantian tahun seharusnya menjadi momentum muhasabah: sudah sejauh mana bekal kita siapkan untuk pulang ke kampung akhirat ?
Allah mengingatkan manusia tentang keterbatasan waktu hidup ini dalam firman-Nya “Dan Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
(QS. al-Mulk: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa panjang pendeknya usia bukan ukuran keberhasilan hidup, melainkan kualitas amal yang mengisi usia tersebut. Hidup bukan sekadar bertambah hari, tetapi tentang bagaimana hari-hari itu dipersembahkan di jalan kebaikan dan ketaatan.
Rasulullah Saw pun mengingatkan umatnya agar tidak terlena oleh umur yang panjang.
Dalam sebuah hadis beliau bersabda
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR. al-Hakim)
Hadis ini seakan menegur kita di setiap pergantian tahun: apakah waktu yang Allah beri sudah dimanfaatkan untuk memperbanyak amal, atau justru habis untuk kelalaian? Sebab, umur yang bertambah tanpa bekal taqwa hanyalah penundaan menuju penyesalan.
Bekal terbaik untuk pulang ke kampung akhirat adalah taqwa. Allah Swt berfirman “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(QS. al-Baqarah: 197)
Taqwa bukan hanya ibadah ritual, tetapi kesadaran penuh bahwa setiap langkah hidup berada dalam pengawasan Allah. Dengan taqwa, seseorang menjaga hubungan dengan Allah (ḥablun minallāh) sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia (ḥablun minannās).
Buya Hamka memberikan mutiara hikmah yang sangat dalam maknanya. Beliau mengatakan, “Bahagia itu bukan karena panjang umur, melainkan karena umur itu dipergunakan untuk mendekat kepada Allah.”
Dalam pandangan Hamka, hidup yang bermakna adalah hidup yang berisi nilai, bukan sekadar usia. Orang yang sedikit umurnya namun penuh taqwa lebih mulia daripada yang panjang usia tetapi jauh dari Allah.
Lebih lanjut, Hamka menegaskan bahwa dunia hanyalah ladang untuk akhirat. Siapa yang menanam kebaikan dengan niat yang lurus, akan menuai kebahagiaan, bukan hanya di dunia berupa ketenangan jiwa, tetapi lebih-lebih di akhirat berupa keselamatan dan ridha Allah.
Maka, di setiap pergantian tahun, marilah kita tidak hanya menghitung umur, tetapi menghitung amal. Tidak hanya menyusun resolusi duniawi, tetapi memperkuat tekad untuk menambah bekal taqwa.
Dengan bekal inilah, kebahagiaan dunia dapat kita rasakan, dan kebahagiaan akhirat kelak menjadi tujuan yang benar-benar kita capai.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









