LAMONGAN lintasjatimnews – Harapan terhadap dunia pendidikan di tahun 2026 semakin menguat, seiring dengan tantangan zaman yang kian kompleks. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta tuntutan global menuntut pendidikan yang lebih adaptif, relevan, dan berpihak pada kebutuhan anak.
Prinsip klasik “Didiklah anakmu sesuai zamannya” kembali menjadi refleksi penting dalam menata arah pendidikan masa depan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Negeri 1 Lamongan, Yuli Widdiyati, S.Pd., M.MPd, menegaskan bahwa mendidik anak di era modern tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama yang seragam dan berorientasi pada hafalan semata.
“Anak-anak yang kita didik hari ini hidup di dunia yang sangat berbeda dengan masa kita dulu. Karena itu, pendidikan harus benar-benar memahami siapa anak yang kita hadapi, apa kebutuhannya, dan kompetensi apa yang mereka perlukan untuk hidup di zamannya,” ujar Yuli, Jumat (2/1/2026)
Menurutnya, harapan besar pendidikan di tahun 2026 adalah terwujudnya kurikulum yang relevan dan kontekstual, tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga memperkuat karakter serta keterampilan hidup peserta didik. Kurikulum harus memberi ruang bagi keberagaman minat, bakat, dan gaya belajar anak.
“Setiap anak unik. Kurikulum tidak boleh memaksa anak menjadi seragam. Pendidikan justru harus hadir untuk menumbuhkan potensi anak secara optimal dengan cara yang manusiawi dan menghargai perbedaan,” jelas guru pengampu mapel Matematika ini.
Yuli juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan di era digital. Namun, teknologi tidak boleh hanya dijadikan pelengkap, melainkan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas proses belajar.
“Teknologi harus digunakan secara bijak. Literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta etika bermedia perlu menjadi bagian penting dari pembelajaran agar anak tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi mampu berkreasi dan bertanggung jawab,” tutur anggota Majelis Dikdasmen PNF PDM Lamongan ini
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi tanpa karakter akan kehilangan arah. Oleh sebab itu, penguatan soft skills seperti komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah harus berjalan seiringan dengan pendidikan karakter.
“Kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Anak-anak kita harus memiliki karakter yang kuat, karena di situlah fondasi mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan yang sesungguhnya,” kata Yuli yang menjabat Wakil Ketua PD Aisyiyah Lamongan
Ia menambahkan bahwa sekolah memiliki peran strategis sebagai ruang pembentukan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, empati, dan kepemimpinan. Nilai-nilai tersebut harus dihidupkan melalui budaya sekolah dan praktik pembelajaran sehari-hari, bukan sekadar diajarkan secara teoritis.
Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat vital. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga teladan bagi peserta didik.
“Di tahun 2026, guru dituntut untuk terus belajar, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan konsisten menunjukkan karakter yang baik. Anak belajar lebih banyak dari keteladanan daripada sekadar kata-kata,” ungkap ibu tiga putra putri ini
Yuli berharap integrasi antara teknologi, karakter, dan pembelajaran berbasis proyek dapat semakin diperkuat ke depan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak, berdaya saing, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
“Pendidikan akan berhasil jika menjadi gerakan bersama. Kurikulum yang relevan, guru yang adaptif, dan dukungan seluruh pemangku kepentingan adalah kunci untuk melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, danb siap membangun masa depan,” pungkas penerima penghargaan pada HGN 2025 sebagai Guru Berprestasi ini
Reporter Fathurrahim Syuhadi








