SURABAYA lintasjatimnews – Hati adalah pusat kehidupan ruhani manusia. Dari sanalah lahir niat, tumbuh keikhlasan, dan terpancar akhlak. Namun hati pula yang paling sulit dijaga.
Ia bisa menjadi menara cahaya yang menjulang menuju Allah, atau justru runtuh karena penyakit batin seperti iri, dengki, hasud, sombong, tinggi hati, dan merasa diri paling hebat.
Penyakit-penyakit inilah yang sering kali tidak disadari, tetapi diam-diam menggerogoti iman.
Allah Swt mengingatkan tentang bahaya penyakit hati.
Dalam Al-Qur’an Allah mengingatkan
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu…” (QS. Al-Baqarah: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa penyakit hati bukanlah perkara ringan. Ia bisa berkembang dan semakin parah bila tidak segera diobati dengan taubat, muhasabah, dan penyucian jiwa.
Iri dan dengki membuat seseorang tidak lapang melihat nikmat pada orang lain. Hasud mendorong keinginan agar kebaikan orang lain lenyap. Sombong dan tinggi hati menjadikan manusia lupa bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah.
Rasulullah Saw bersabda bahwa “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)
Hadis ini sangat tegas. Kesombongan, sekecil apa pun, adalah penghalang besar menuju keselamatan. Merasa hebat sendiri, merasa paling benar, paling berjasa, atau paling berilmu, adalah bibit kesombongan yang sering tersembunyi di balik amal dan prestasi.
Imam Al-Ghazali sang hujjatul Islam, memberikan peringatan keras tentang penyakit-penyakit hati ini. Dalam Ihya’ Ulumuddin, beliau menjelaskan bahwa iri, dengki, dan sombong adalah penyakit batin yang jauh lebih berbahaya daripada dosa lahir.
Menurut beliau, sombong adalah “menolak kebenaran dan meremehkan manusia,” sedangkan hasud adalah “ketidakrelaan hati terhadap pembagian nikmat Allah.”
Imam Al-Ghazali juga menegaskan bahwa sulitnya membersihkan hati bukan karena kurangnya ilmu, tetapi karena manusia enggan merendahkan dirinya di hadapan Allah. Selama seseorang masih merasa dirinya lebih baik, lebih suci, atau lebih berjasa daripada orang lain, selama itu pula pintu penyucian hati akan tertutup.
Menara hati tidak akan pernah kokoh bila fondasinya adalah kesombongan. Ia hanya akan berdiri tegak jika dibangun di atas kerendahan hati, syukur, dan keikhlasan. Orang yang hatinya bersih akan mudah mendoakan orang lain, lapang menerima kebenaran, dan tenang meski tidak selalu dihargai.
Maka, tugas kita bukan hanya memperbaiki amal lahir, tetapi juga membersihkan batin. Mengikis iri dengan syukur, memadamkan dengki dengan doa, melawan sombong dengan mengingat dosa, dan menumbuhkan tawaduk dengan menyadari bahwa semua kelebihan hanyalah titipan Allah.
Sebab hati yang bersih adalah istana iman, dan hati yang dipenuhi iri dan sombong hanyalah reruntuhan, meski tampak megah di mata manusia. Semoga Allah Swt membersihkan hati kita dari segala penyakit batin dan meneguhkannya sebagai menara cahaya menuju rida-Nya. Aamiin.
Penulis Fathurrahim Syuhadi









