LAMONGAN lintasjatimnews – Di tengah kehidupan sosial yang kian sarat dengan simbol, gelar, dan identitas formal, nilai kemanusiaan sering kali tereduksi pada sebutan dan status. Padahal, esensi kemuliaan manusia tidak pernah lahir dari nama besar, melainkan dari ketulusan hati dan keluhuran akhlak.
Pesan inilah yang ditekankan oleh Maftuhah, M.Pd., Wakil Ketua STIT Muhammadiyah Paciran Lamongan, dalam refleksi keislaman yang ia sampaikan, Kamis (18/12/2025)
Menurut Maftuhah, masyarakat hari ini kerap terjebak pada penilaian lahiriah. Nama, gelar akademik, dan popularitas sering dijadikan tolok ukur utama dalam memandang seseorang.
“Manusia dinilai bukan dari siapa ia dipanggil, tetapi dari bagaimana ia bersikap. Bukan dari huruf-huruf yang melekat pada namanya, melainkan dari akhlak yang hidup dalam tindakannya,” ujar Maftuhah.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang sangat jelas terkait ukuran kemuliaan manusia. Dalam QS. Al-Hujurāt ayat 13, Allah Swt. menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, sementara kemuliaan di sisi-Nya hanya ditentukan oleh ketakwaan.
Ayat ini, menurut Maftuhah, menjadi kritik halus terhadap kecenderungan manusia yang gemar menghakimi berdasarkan latar belakang dan atribut sosial.
“Nama, asal-usul, dan status hanyalah identitas lahiriah. Sementara takwa adalah kualitas batiniah yang tidak selalu tampak, tetapi justru itulah yang paling bernilai di hadapan Allah,” ungkapnya.
Karena itu, menimbang manusia dengan nama berarti berhenti pada permukaan, sedangkan menimbang dengan hati berarti menyelami kedalaman makna kemanusiaan.
Dalam realitas keseharian, Maftuhah melihat masih banyak orang sederhana yang luput dari perhatian, padahal keberadaannya penuh manfaat.
“Tidak sedikit orang yang jarang disebut namanya, tetapi doanya mengetuk langit. Tidak dikenal luas, namun kehadirannya menenangkan dan menguatkan,” kata kandidat Doktor dari UMM ini
Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah Saw. bahwa Allah tidak memandang rupa dan harta manusia, melainkan hati dan amal perbuatannya. Pesan ini, lanjutnya, seharusnya menjadi dasar dalam membangun relasi sosial yang adil dan beradab.
Menutup refleksinya, Maftuhah mengajak masyarakat untuk bercermin. “Apakah kita ingin dikenal karena nama, atau dikenang karena kebaikan? Nama bisa pudar oleh waktu, tetapi ketulusan akan hidup dalam ingatan dan doa orang lain,” pungkasnya
Reporter Fathurrahim Syuhadi









